Minuman Berpemanis dalam Kemasan akan Kena Cukai, Apa Kata Dokter?

Minuman Berpemanis Dalam Kemasan Akan Kena Cukai Apa Kata Dokter 6829ae1.jpg
Zehan
Zehan
Print PDF

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia berencana mengatur pajak minuman manis kemasan (MBDK) pada tahun ini. Undang-undang ini dibuat dengan tujuan untuk mengurangi konsumsi gula berlebihan yang dapat menyebabkan banyak penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2.

“Penyakit tidak menular akibat konsumsi (konsumsi) gula yang berlebihan sangat merugikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),” jelas ahli gizi masyarakat, Dr. Tan Shot Yen MHum, di Republika.co.id pada Selasa (30/1/) 2024).

Dia mengatakan, pembayaran pajak ke MBDK bisa menyebabkan harga minuman manis dan produk manis naik. Harga yang mahal ini mungkin membuat sebagian orang enggan membeli dan mengonsumsi minuman manis atau bergula.

Meski demikian, Dr Tan meyakini masyarakat dengan potensi ekonomi tinggi tetap bisa mendapatkan produk tersebut tanpa kendala. Oleh karena itu, kelompok ini mungkin masih berisiko terkena penyakit tidak menular terkait konsumsi gula berlebihan meski sudah diterapkan pajak BMDK.

Selain itu, Dr Tan mengingatkan bahwa sumber konsumsi gula yang tinggi bukan hanya dari cangkir saja. Tak jarang, konsumsi gula berlebihan juga disebabkan oleh makanan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemanis juga terdapat pada makanan, tidak hanya minuman bersoda. Termasuk penggunaan kecap dan berbagai saus, ujarnya.

Terkait pola konsumsi gula di masyarakat, data Kementerian Kesehatan menunjukkan 28,7 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi gula, garam, dan lemak lebih dari batas yang dianjurkan. Batasannya adalah gula 50 gram per hari, garam 2 gram per hari, dan lemak 67 gram.

Tak hanya itu, melalui situs resminya, Kementerian Kesehatan mengungkap 61,27 persen masyarakat Indonesia berusia 3 tahun ke atas meminum minuman bersoda lebih dari satu kali dalam sehari. Sekitar 30,22 persen masyarakat Indonesia juga meminum minuman ringan 1-6 kali dalam seminggu. Berdasarkan Riskesdas 2018, hanya 8,51 persen masyarakat Indonesia yang mengonsumsi minuman ringan kurang dari 3 kali dalam sebulan.

Dr Tan mengingatkan, kebiasaan makan terlalu banyak gula bisa menyebabkan 5K. Berikut ini adalah 5K yang dibicarakan oleh Dr Tan:

1. Kecanduan. Meningkatnya permintaan akan kesenangan ekstrim.

2. Obesitas dan osteoporosis.

3. Gula darah tinggi (dengan risiko diabetes atau stroke).

4. Kolesterol jahat meningkat (dengan risiko penyakit jantung).

5. Risiko kanker meningkat akibat konsumsi gula yang sering dikaitkan dengan produk ultra-olahan dan obesitas.

Beberapa orang mungkin mencoba mengurangi asupan gula hariannya dengan beralih ke minuman manis. Menurut Dr Tan, cara tersebut bukanlah solusi karena mengonsumsi pemanis buatan juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Daripada mencari perbedaan, Dr Tan berpendapat bahwa kebiasaan makan terlalu banyak gula sebaiknya diperbaiki dengan meningkatkan kesadaran. Sayangnya, Dr Tan menilai kesadaran masyarakat akan bahaya konsumsi gula berlebih masih rendah.

“Karena literasi membaca label pangan masih rendah,” kata Tan.