Ketua BEM UI: Tidak Guna Pemimpin Muda Tapi Mengacaukan Konstitusi

Ketua Bem Ui Tidak Guna Pemimpin Muda Tapi Mengacaukan Konstitusi 7a4922d.jpg
Zehan
Zehan
Print PDF

DEPOK – Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Melki Siddik Huang mengatakan kiprah Jibran Rakabuming Raka merupakan kekalahan generasi muda dalam mempertahankan kepentingannya. Ia menilai kepemimpinan Gebran di Pilpres 2024 bukan sebuah kemenangan bagi generasi muda.

Dalam pidatonya yang bertajuk “Perjuangan Kulsoum Kebangsan: Pengkhianatan Konstitusi Dinasti,” Melki mengatakan, “Kemajuan Gibran bukan berarti kemenangan kelompok pemuda, melainkan kekalahan kelompok pemuda yang membutuhkan. untuk dipertahankan demi kepentingannya sendiri.” Gedung Administrasi UI, Selasa lalu, 7 November 2023.

Menurutnya, tidak masuk akal jika ada pemimpin muda yang memutarbalikkan konstitusi. Padahal Konstitusi adalah penjaga negara.

Ia bertanya, “Apa gunanya pemimpin muda jika kita mengacaukan konstitusi?” Ia berkata, “Apa gunanya pemimpin muda jika mereka mengganggu hal-hal yang dapat melindungi masa depan kita semua, seperti konstitusi.”

Gibran benar-benar mewakili generasi muda. Dia tak mempermasalahkan pencalonan Gebran sebagai wakil presiden di samping Prabov Subjant. Namun yang mengejutkan, praktik-praktik lama, yakni nepotisme dan kolusi, masih terus berlanjut.

“Apa gunanya pemimpin muda kecuali pemikiran-pemikiran lama, kebiasaan-kebiasaan lama, nepotisme, dan kolusi. Ini hal buruk yang harus dilawan,” tegasnya.

Melki menegaskan, dirinya tidak setuju dengan kehadiran pemimpin muda. Peluang ini sebenarnya lebih “menguntungkan” bagi kita dari segi tahun dan lamanya. Namun yang kita butuhkan adalah pemimpin muda dengan ide-ide muda, ide-ide kepemimpinan yang muda dan segar.

“Ini bukan berarti kita tidak setuju dengan lahirnya pemimpin-pemimpin muda. Faktanya, hal ini lebih ‘berguna’ bagi kita di tingkat usia, seiring berjalannya waktu. “Tetapi kita membutuhkan pemimpin-pemimpin muda dengan ide-ide muda, dengan ide-ide muda, dengan ide-ide baru untuk memimpin republik ini,” imbuhnya.

Ia mengaku bosan dengan gaya berkendara kelompok senior yang dinilainya hanya membuang-buang anggaran. Mereka menginginkan pemimpin yang mendukung kaum muda.

“Kita bosan dengan pemimpin-pemimpin lama yang setiap hari menghambur-hamburkan anggaran dengan menghadirkan korupsi yang tak kasat mata, berpura-pura muda, memakai celana jeans untuk Pemilu 2024, memakai sepatu trainers, memakai jaket denim, berpura-pura menjadi Dylan Melia, berpura-pura muda dan sebagainya. kami mencoba untuk mencoba.” “Kita semua mempunyai 52 persen suara, namun kita tidak pernah mempunyai posisi yang jelas mengenai aturan dan kebijakan yang berlaku bagi generasi muda,” tutupnya.

Baca artikel edukasi menarik lainnya di link ini. Pendiri PNI ini mengkritik Jokowi karena mengklaim presiden bisa berkampanye dan memihak. Pernyataan Presiden Joko Widodo (Yokowi) mengenai kesanggupan Presiden dalam berpihak dan berkampanye dinilai tidak diucapkan oleh Presiden Joko Widodo. infosurabaya.com.co.id 2 Februari 2024