BRI Bidik Pertumbuhan Kredit hingga 12% pada 2024, Begini Strateginya

Bri Bidik Pertumbuhan Kredit Hingga 12 Pada 2024 Begini Strateginya 0be71d5.jpg
Zehan
Zehan
Print PDF

Liputan6.com, JAKARTA – Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI berencana menaikkan suku bunga pinjaman sebesar 11-12% pada tahun 2024. BRI akan menerapkan sejumlah langkah untuk meningkatkan pinjaman.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, tingkat pertumbuhan kredit BRI saat ini sebesar 11,2% dan pihaknya berharap pada tahun 2024 dapat mencapai kemajuan sesuai regulasi. “Pinjaman tumbuh 11,2% dan kita harapkan bisa terus tumbuh di tahun 2024, pedomannya 11-12%. 11-12% itu sangat besar dengan nominal beberapa kuadriliun,” ujar Sunaso.

Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) akan menerapkan sejumlah langkah yang mendorong pertumbuhan. Salah satunya akan tetap fokus pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain itu, perusahaan juga fokus pada pasar pertumbuhan baru melalui segmen hilir.

“Berkembang di segmen hilir AMD. Oleh karena itu, AMD menjadi pasar baru yang sedang berkembang, dan kami yakin pasar pertumbuhan baru tersebut berasal dari pasar segmen mikro,” kata Sunaro.

Kini, Inisiatif Sabuk dan Jalan juga memberikan jaminan yang cukup bagi pertumbuhan kredit. “Memastikan kami memiliki cukup produk sangat sulit bagi kemampuan pemasaran kami,” kata Sunaso.

Selain itu, perseroan menjaga rasio kecukupan modal (CAR) untuk mendukung pinjaman.

. Tidak akan ada kekurangan dana selama lima tahun ke depan. “Dia berkata.

Selain itu, Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) akan terus diperluas secara efektif melalui manajemen risiko. “Kemampuan mengelola risiko. Ekspansi yang efisien, manajemen risiko yang memadai, dan kepatuhan terhadap standar ESG akan terus berlanjut. 10% pelaku kejahatan teratas dikendalikan oleh 11-12%,” katanya.

BRI menyebutkan penyaluran pinjamannya akan tumbuh sebesar 11,2% setiap tahunnya menjadi Rp 1,2664 miliar pada tahun 2023. Sunarso mengatakan, pinjaman yang diberikan BRI lebih tinggi dibandingkan suku bunga kredit industri perbankan dalam negeri yang sebesar 10,4%.

Kredit kecil meningkat 10,9% menjadi Rp611,2 triliun, sektor konsumsi meningkat 11,4% menjadi Rp190 triliun, kredit kecil dan menengah meningkat menjadi Rp267,5 triliun, dan kredit korporasi meningkat menjadi Rp13,8 triliun, alokasi kredit Dukungan diberikan. . “Apa maksudnya jika total pinjaman produk ke UMKM mencapai 84,4% dari total pinjaman BRI atau Rp 1.068,7 miliar,” kata Sunarso.

Peningkatan kredit juga berdampak positif terhadap suku bunga. Sunarso mengatakan, laba BRI meningkat 16,9% menjadi Rp188,1. Hal ini juga didukung oleh pertumbuhan pelanggan AMD.

“Pada akhir Desember, jumlah nasabah pinjaman super mikro sebanyak 37,3 juta. Mereka membutuhkan dukungan finansial dari industri keuangan dan perbankan, yang dapat dikurangi dengan meningkatkan akses terhadap usaha kecil dan mikro.” belum menerima dukungan formal. “

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Badan Jasa Keuangan (OJK) menyatakan alokasi pinjaman industri perbankan akan meningkat sebesar 9,74% year-on-year pada November 2023 mencapai US$6966 triliun.

“Dari sisi kinerja lembaga intermediasi pada November 2023, kredit meningkat sebesar 9,74% year-on-year,” kata Direktur Jenderal Pengawasan Perbankan OJK Dian Ediana Rae.

Dian Ediana Rae mengatakan, dalam skenario ini, bank sektor publik akan menjadi katalis peningkatan kredit pada November 2023, dengan aktivitas konsolidasi bank sektor publik meningkat sebesar 12,13% (year-on-year) dan memberikan kontribusi sebesar 45,81% terhadap total kredit industri.

“Dilihat dari suku bunga Bank BTPN yang menjadi sumber pertumbuhan kredit, pinjaman sebesar 12,13% setara dengan 45,81% dari seluruh pinjaman bank,” ujarnya.

Selain itu, beliau menyampaikan meskipun prospek perlambatan perekonomian global mulai November 2023, meski diselimuti ketidakpastian global, namun perkembangan industri perbankan tetap sabar dan kompetitif di akhir tahun 2023, didukung oleh profitabilitas atau return. terhadap aset (ROA) sebesar 2,73% dan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 27,89%.

Persyaratan modal

Di sisi lain, pertumbuhan kredit juga ditopang oleh kebutuhan modal kerja (pertumbuhan 10,14% year-on-year), kredit investasi (9,57% pertumbuhan year-on-year) dan kredit operasional (9,26% pertumbuhan year-on-year). .

Selain itu, industri perbankan pada November 2023 berada pada level memadai dengan utilisasi melebihi ketentuan regulator.

AL/NCD dan AL/DPK masing-masing naik menjadi 115,73% dan 26,04%, melebihi masing-masing 50% dan 10%.

Hasil survei perbankan yang dilakukan Bank Indonesia (BI) sebelumnya menunjukkan penyaluran kredit baru meningkat pada triwulan IV tahun 2023. Hal ini tercermin dari rata-rata tertimbang (WBT) pangsa kredit baru sebesar 96,1%, naik dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 95,4%.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Haryono menjelaskan kenaikan tersebut terutama berasal dari kredit investasi dan kredit operasional. “Pinjaman baru diperkirakan menurun pada kuartal I 2024, WBT memperkirakan penyaluran pinjaman baru mencapai 44,6%,” ujarnya dalam catatan, Selasa, 23 Januari 2024.

Sesuai tujuannya, penyaluran pinjaman baru meningkat untuk semua jenis pinjaman kecuali pinjaman bekas. Pinjaman modal kerja (SBT 93,5%) dan pinjaman (SBT 85,0%) tumbuh signifikan.

Sementara itu, kredit konsumsi (SBT 79,3%) menunjukkan pertumbuhan yang baik karena Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dan Kredit Tanpa Agunan (KTA) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, kredit ganda, kartu kredit dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR)/Kredit Pemilikan Rumah (KPA) menunjukkan pertumbuhan moderat.

Satu hal yang menarik dari penelitian ini adalah suku bunga KPR pada kuartal keempat tahun 2023 sedikit lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Hal ini tercermin dari suku bunga ILS sebesar 0,3%.

Sebagian besar bidang kebijakan untuk alokasi kredit diperkirakan akan lebih ketat dibandingkan kuartal lalu, terutama perjanjian kredit. Pada saat yang sama, kebijakan pinjaman diharapkan akan diperkenalkan.

“Di sisi lain, suku bunga KPR dan biaya persetujuan pinjaman diperkirakan tidak berubah,” tambah Erwin.

Owen melanjutkan, hasil survei menunjukkan responden tetap optimis terhadap pertumbuhan kredit. Responden memperkirakan pertumbuhan pinjaman setahun penuh sebesar 10,8% pada tahun 2024 (tahun ke tahun). Harapan-harapan ini bergantung, antara lain, pada perekonomian dan masa depannya serta risiko-risiko yang dapat dikendalikan secara efektif oleh alokasi kredit.