Teknologi AI Mulai Diterapkan untuk Belajar Mengaji Alquran

Teknologi Ai Mulai Diterapkan Untuk Belajar Mengaji Alquran 68f1370.jpg
Zehan
Zehan
Print PDF

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Teknologi kecerdasan buatan (AI) tengah digunakan sebagai metode mempelajari Al-Quran. Dengan bantuan kecerdasan buatan, sesi pembelajaran Alquran yang memerlukan dukungan langsung atau tatap muka dari guru kini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian orang beranggapan bahwa belajar mengaji sangat rumit dan memiliki tantangan tersendiri. Agar bisa membaca Al-Qur’an dengan benar dan baik, para pemula perlu memahami beberapa hal, mulai dari penyisipan huruf hijaya, tanda baca, dan bacaannya. Mereka juga harus rutin berlatih bersama guru agar bacaan Al-Qur’an lancar.

Sayangnya, tidak semua orang mempunyai kesempatan belajar Al-Qur’an dari seorang guru. Itulah sebabnya masih banyak umat Islam di Indonesia yang belum bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Memang fakta yang dipaparkan Paul Syafrudin, Presiden Yayasan Komyen Al-Qur’an Indonesia tahun 2021 ini sangat mengejutkan. Ia mengatakan, 65 persen umat Islam Indonesia tidak bisa membaca Alquran.

Dalam skala yang lebih kecil, informasi serupa ditemukan oleh Prof. Sutarto Khodi, mantan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, yang kini menjadi salah satu pendiri aplikasi pembelajaran Alquran berbasis kecerdasan buatan ngaji.ai. Menurutnya, pada tahun 2021, guru agama di kampus yang dipimpinnya menemukan lebih dari 60 persen mahasiswa baru belum bisa mengaji.

Sutarto meluncurkan ngaji.ai dengan kepedulian dan kepedulian terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang masih menjadi tantangan besar di tanah air. Sebelum peluncuran final, Sutarto mengimplementasikan ide pembuatan aplikasi tersebut dengan rencana yang detail.

“Yang terpenting pembelajaran hafalan Al-Qur’an, meski tanpa guru, harus berkualitas dan jelas,” kata Sutarto, dilansir Republika.co.id, dalam siaran pers yang diperoleh, Rabu (31). /01/2024).

Sutarto memilih ide pengembangan aplikasi sebagai metode yang paling efektif karena mudah diakses melalui gadget. Menurutnya, kini gadget sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

“Kami berharap melalui aplikasi ini pengguna dapat belajar mengaji, kapanpun dan dimanapun.” “Mereka sebenarnya bisa mengubah waktunya,” katanya.

Untuk mewujudkan ide ini, Sutarto mulai mencari mitra yang dapat ikut menciptakan aplikasi tersebut. PT Novo Indonesia yang sebelumnya meluncurkan program peningkatan bahasa Inggris bagi mahasiswa ULM bekerja sama dengan Belajar (Vokal.ai), memiliki gagasan serupa ketika berencana membuat aplikasi pembelajaran Alquran.

“Saya yakin Vocal.ai adalah mitra ideal untuk membangun aplikasi ini.” “Mereka punya teknologi yang unik dan terbukti,” kata Sutarto.

CEO Vocal.ai berkata…