Quantcast

Bullying dan Game Online Ancam Perkembangan Anak, Lia Istifhama Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pembentukan Mental – Kabar Surabaya

Surabaya (( Info Surabaya)) — Fenomena kasus bullying dan kecanduan game online pada anak kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya laporan kasus yang muncul di rumah, lingkungan sekolah, hingga pesantren. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran karena dampaknya tidak hanya pada sisi psikologis, namun juga perilaku dan perkembangan sosial anak.

Menurut Anggota DPD RI Lia Istifhama, bentuk-bentuk kekerasan psikologis maupun sosial seperti perundungan tak lagi berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan persoalan lain, mulai dari kecanduan game online, konflik keluarga, hingga kebutuhan akan perhatian dan pendidikan karakter sejak dini.

“Bahwa kasus bullying hari ini tidak lagi sporadis. Sebagian besar muncul di lingkungan terdekat anak, bahkan di tempat yang dianggap aman seperti rumah dan pondok pesantren,” tutur Senator Muda, yang akrab disapa Ning Lia, pada Kamis (15/01).

“Banyak sekali kasus yang muncul, mulai dari bullying sampai kasus pencurian kecil yang terjadi di pesantren atau lingkungan rumah. Ini menunjukkan bahwa masalahnya semakin luas dan tidak bisa dianggap enteng,” ujar Lia saat ditemui dalam kunjungan RS Menur Surabaya.

Ia menilai bahwa persoalan mental dan karakter anak harus dipandang sebagai kerja bersama, bukan hanya tugas sekolah.

“Kita mendidik anak itu harus dua arah. Orang tua harus menjaga agar anak jangan sampai menjadi pelaku perundungan, tapi juga jangan sampai menjadi korban,” ujarnya.

Ning Lia menegaskan bahwa upaya mencegah anak menjadi korban dimulai dari pembentukan mental yang kuat sedari kecil.

“Supaya anak tidak jadi objek dari perundungan, mereka harus dibekali keberanian, ketegasan, ketangguhan, dan fokus dalam kehidupan yang nyata. Jangan sampai mereka terjebak terlalu dalam pada dunia maya,” tambahnya.

Kecanduan game online, menurut Keponakan Jawa Timur“>Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa, Ning Lia, kini menjadi pemicu baru gangguan belajar hingga depresi ringan pada anak-anak dan remaja.

“Banyak kasus gangguan fungsi belajar muncul karena anak lebih tenggelam dalam dunia maya dibanding dunia nyata. Ini membuat mereka rentan,” jelasnya.

Ning Lia mengapresiasi hadirnya layanan kesehatan mental yang lebih ramah di Jawa Timur karena menjadi ruang penyelesaian persoalan tanpa stigma.

“Alhamdulillah rumah sakit hadir dengan sabar, dengan niat membantu, dan tidak menghakimi. Ini penting sekali karena banyak orang tua sebenarnya bingung dan lelah, tetapi tidak tahu harus meminta bantuan ke mana,” ungkapnya.

Ia juga menyebut bahwa biaya konsultasi psikologis maupun penanganan khusus memang beragam, namun kini semakin terjangkau dibanding sebelumnya.

“Kalau dulu mungkin orang takut karena biaya tinggi. Sekarang biayanya lebih manusiawi dan fasilitasnya lebih lengkap,” tambahnya.

Lebih jauh, Ning Lia mendorong pentingnya edukasi pra-nikah agar calon orang tua tidak hanya siap secara ekonomi, tetapi juga mental.

“Kita perlu mempersiapkan calon orang tua. Bukan hanya soal pernikahan, tetapi soal kesiapan mental dalam mengasuh dan membesarkan anak. Kalau ini dilakukan, banyak kasus bisa dicegah sejak awal,” tegasnya.

Ning Lia berharap sinergi antara keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan mental dapat semakin menguat agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang tangguh, berdaya, dan berakhlak baik (***)

Continue Reading

  • Dipublikasi Pada 17 Januari 2026
  • Baru Saja di Update Pada Januari 17, 2026
  • Temukan Kami di Google News

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).


Follow WhatsApp Channel Infosurabaya.com
Follow