Infosurabaya I Surabaya– Celine Evangelista kembali menjadi pusat perhatian saat menghadiri roadshow film horor terbarunya, Danyang Wingit Jumat Kliwon, di Cinema XXI Tunjungan Plaza Surabaya, pada Sabtu (22/11/2025) malam.
Artis yang dikenal dengan gaya beragam ini muncul dengan penampilan berbeda: busana adat Jawa berwarna hitam yang dibalut aksesoris emas elegan, dipadukan dengan hijab yang dirancang menyatu dengan kebaya, menciptakan keseragaman tanpa mengurangi nuansa tradisional.
Riasan minimalisnya semakin menyoroti pesona kuat, membuatnya langsung menjadi sorotan ketika melangkah di karpet acara. Sesaat sebelum pemutaran, Celine mengakui kepada wartawan, bahwa peran sinden sebagai Citra, yang dijadikan tumbal terakhir untuk keabadian dalang merupakan tantangan terberat dalam karirnya yang telah mencakup sinetron, penyanyi, komedi, dan modeling.
“Saya butuh waktu berbulan-bulan untuk latihan. Itupun belum bisa seperti sinden profesional,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa bahasa dan mantra dalam film sangat kental dengan budaya Jawa, sehingga tidak bisa sembarangan diucapkan atau dilantunkan.
“Selama syuting dan dubbing, selalu ada yang menjaga. Kalau salah sedikit, harus ulang dari awal ritualnya. Prosesnya sangat teliti dan memakan waktu,” katanya.
Mengenai aspek mistis dalam film, Celine menyatakan hanya percaya kepada Allah meskipun meyakini adanya makhluk lain. “Allah selalu menjaga saya. Untuk hal-hal mistis yang terjadi, sebaiknya tanya sutradara Agus Riyanto atau rekan-rekan yang lebih merasakannya,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa sinden profesional dididik sejak kecil dengan latihan dan ritual khusus, sehingga latihannya selama 5-6 bulan hanya mampu memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya.
Film yang dipersembahkan Khanza Film Entertainment adalah karya horor ideologis yang dihasilkan dari riset selama satu tahun oleh Agus Riyanto sebagai sutradara dan produser. Timnya mendekati juru kunci dan dalang di lereng Gunung Merbabu untuk mendapatkan gambaran akurat tentang kepercayaan masyarakat pedalaman.
“Harapannya film ini bisa menyebarkan budaya Indonesia, apalagi wayang yang mulai tidak familiar di kalangan anak muda,” ungkap Agus.
Wayang kulit, katanya, juga merupakan salah satu cara mendakwah Islam di nusantara yang perlu dilestarikan di era digital. Film yang tayang perdana serentak pada 20 November 2025 menyajikan realitas kehidupan dengan pengambilan adegan yang cermat, beberapa bahkan harus diulang untuk mencapai visualisasi yang diinginkan.
Roadshow yang berlangsung meriah di Surabaya merupakan bagian dari jelajah pulau Jawa yang dimulai 16 November di Bogor-Karawang, melintasi Bandung, Tegal, Semarang, Jogja, Solo-Madiun, sebelum tiba di Malang dan Surabaya hari ini (Sabtu, 22/11/2025). Film ini telah menjadi salah satu horor lokal yang paling dinantikan penonton.
Film “Danyang Wingit Jumat Kliwon”: Proses Pembuatan Hampir 2,5 Tahun, Jelajah Kesulitan dan Kehidupan
Proses pembuatan film Danyang Wingit Jumat Kliwon yang disutradarai Agus Riyanto memakan waktu yang cukup panjang, bahkan hampir 2,5 tahun dari konsep hingga selesai. Menurut Agus, tahap persiapan saja membutuhkan sekitar 1 tahun, di mana tim yang juga berasal dari belakang layar Entertainment mendalami cerita di Desa Gedagan, lereng Gunung Merbabu – yang berpusat pada wayang kulit yang diperankan sebagai terbuat dari kulit manusia.
“Kita butuh 1 tahun cuma untuk ‘resep’ ceritanya sendiri, memahami konteks lokal dan filosofi wayangnya,” ujar Agus saat ditemui di Surabaya, Sabtu (22/11/2025) petang.
Tahap pemilihan karakter dan pemain pun tidak kalah panjang, yakni sekitar 6 bulan, karena setiap aktor diharuskan mendalami perannya secara mendalam. Salah satu pemain utama, Celine Evangelista, bahkan ikuti langsung proses bersama produser untuk memahami karakter yang dia mainkan.
Syuting yang berlangsung selama 3 minggu lebih (hampir 1 bulan) juga menghadapi tantangan tersendiri, dengan lokasi yang tersebar mulai dari Pendopo Curug hingga daerah lain yang cukup jauh. Agus menceritakan momen unik saat syuting di Pendopo pada jam 2 dini hari: ketika Celine muncul, keramaian yang semula seperti pasar tiba-tiba menjadi hening.
“Auranya keluar semua, dia cuma diam – seperti ada sesuatu yang sakral. Ada juga adegan yang diulang berkali-kali karena terasa “ngeri banget”, sehingga tim bingung apakah itu Celine atau karakter Ratu yang sebenarnya muncul,” ungkapnya.
Lokasi Curug sendiri ternyata menyimpan cerita mendalam: beberapa waktu sebelum syuting, sepasang pacar tewas di situ. Jasad perempuan itu hanya ditemukan oleh bapaknya, ibunya, dan juru kunci tetapi ketika dibawa keluar, banyak warga yang mengaku melihatnya sebagai kepok pisang. “Itu yang bikin lokasinya namanya ‘wingit’ (mengerikan). Kita pernah pilih 20 lokasi, tapi ini yang paling pas,” jelas Agus.
Film yang menjadi proyek terakhir Celine sebelum menggunakan hijab ini juga memiliki tujuan untuk mempromosikan budaya wayang Jawa, yang banyak hilang dan bahkan disalahgunakan negara lain. “Kita pengen tunjukin bahwa wayang itu lucu dan berharga, bukan cuma sesuatu yang ketinggalan zaman,” ujarnya.
Kolaborasi antara horor dan wayang dipilih untuk menciptakan nuansa yang lebih terasa, terutama ketika diiringi gamelan di malam hari. Hingga hari kedua tayang, film ini sudah dicatat ditonton oleh 56 ribu penonton.
Rencananya, Danyang Wingit Jumat Kliwon akan tayang di Malaysia pada Desember mendatang, dengan pengajuan sedang berjalan untuk Vietnam dan Amerika meskipun Agus mengakui budaya Indonesia di dalamnya sangat kental. “Jangan ketinggalan adegan awal, itu adalah kuncinya untuk memahami seluruh cerita,” tutupnya.(Kdm)
- Dipublikasi Pada 23 November 2025
- Baru Saja di Update Pada November 23, 2025
- Temukan Kami di Google News
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
