Anak Mengamen Bersama Ibu, Pemkot Surabaya Buka Jalan Menuju Masa Depan.
Infosurabaya.com – Malam semestinya menjadi waktu seorang anak beristirahat di rumah. Namun, seorang anak di Surabaya justru ikut ibunya berkeliling mengamen dari kawasan Sememi hingga Sukomanunggal.
Aktivitas itu akhirnya diketahui setelah seorang warga melapor melalui hotline Lapor Cak Eri. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti Pemkot Surabaya dengan mendatangi rumah keluarga dan memastikan kondisi anak.
Bagi Pemkot Surabaya, persoalan ini bukan sekadar menghentikan anak dari aktivitas mengamen. Ada masa depan anak yang harus dijaga, sekaligus persoalan ekonomi keluarga yang perlu dicarikan jalan keluar.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta laporan mengenai anak yang mengamen segera ditindaklanjuti. Menurutnya, anak harus mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan bersekolah tanpa dibebani aktivitas mencari penghasilan.
“Kalau ada laporan anak kecil mengamen, harus segera diperiksa. Tidak boleh ada anak kecil yang mengamen di jalanan,” kata Eri.
Laporan warga itu kemudian membawa tim Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya bersama konselor ke rumah keluarga.
Kepala DP3APPKB Surabaya Ida Widayati mengatakan, petugas menemukan aktivitas mengamen tersebut dilakukan anak bersama ibunya. Dari pendampingan, Pemkot juga melihat persoalan ekonomi keluarga menjadi bagian yang harus ditangani.
Karena itu, penyelesaiannya tidak cukup dengan meminta anak berhenti turun ke jalan.
“Kami akan melakukan intervensi agar ibu bisa bekerja dan berdaya, bukan dengan mengeksploitasi anak,” ujar Ida.
Di tengah persoalan tersebut, muncul satu modal yang bisa dikembangkan. Sang ibu ternyata memiliki keterampilan menjahit.
Pemkot kemudian menawarkan pelatihan dan pengembangan keterampilan menjahit agar kemampuan tersebut bisa menjadi sumber penghasilan keluarga. Sang ibu juga menyampaikan keinginan untuk berjualan gorengan atau makanan ringan yang akan turut difasilitasi.
Harapannya sederhana: kebutuhan keluarga tetap bisa dipenuhi, tetapi anak tidak lagi harus ikut mencari uang di jalan.
Pendampingan juga menemukan pendidikan anak belum berjalan maksimal karena kondisi keluarga.
Ida mengatakan, anak memiliki hak untuk mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang layak. Karena itu, intervensi Pemkot diarahkan bukan hanya pada persoalan ekonomi, tetapi juga hubungan antara orang tua dan anak.
“Anak memiliki hak mendapatkan pengasuhan yang baik dan pendidikan. Kami ingin memastikan hak-hak anak tersebut kembali terpenuhi,” katanya.
Pemkot juga mendorong orang tua memperkuat komunikasi dengan anak. Menurut Ida, pola pengasuhan dan kedekatan orang tua berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
“Orang tua harus memahami kondisi anak, baik secara psikologis maupun dari aspek tumbuh kembangnya,” ujarnya.
Kasus ini bermula dari laporan sederhana seorang warga yang melihat seorang anak berada di jalan untuk mengamen. Namun, tindak lanjutnya membuka persoalan yang lebih luas: bagaimana memastikan kebutuhan ekonomi keluarga tidak membuat anak kehilangan hak atas pendidikan dan masa kanak-kanaknya.
Kini, Pemkot Surabaya mencoba membuka jalan lain bagi keluarga tersebut. Sang ibu didorong mengembangkan keterampilan menjahit atau usaha makanan, sementara anak diarahkan kembali mendapatkan hak pengasuhan dan pendidikan.
Sebab, yang ingin diselamatkan bukan hanya seorang anak dari jalanan hari ini, tetapi juga kesempatan anak itu untuk memiliki masa depan yang lebih baik. ((red))
- Dipublikasi Pada 2 Oktober 2026
- Baru Saja di Update Pada Oktober 2, 2026
- Temukan Kami di Google News
Bagikan ke Media Sosial
Unduh slide siap posting untuk Instagram, TikTok, X & Koran digital

