Infosurabaya.com – Di tengah libur panjang sekolah, pertanyaan tentang fungsi nilai rapor di Sekolah Dasar (SD) kembali muncul ke permukaan. Ali Yusa dari Dewan Pendidikan Jawa Timur menyampaikan pernyataan tegas: “Hentikan angka di rapor sekolah dasar, karena lebih banyak mudarat daripada manfaat.”
Menurut Ali Yusa, nilai angka di rapor SD cenderung berfungsi sebagai alat pembanding antar anak, antar sekolah, dan bahkan antar orang tua, bukan sebagai cermin yang sebenarnya dari perkembangan belajar anak. “Sekolah dasar bukan arena kompetisi, melainkan ruang tumbuh. Namun nilai kuantitatif telah memaksa anak masuk terlalu dini ke logika ranking: siapa pintar, siapa tertinggal,” ujarnya kepada infosurabaya.com saat dikonfirmasi, Jumat (26/12/2025).
Baca Juga : Kemendukbangga/BKKBN Jatim Dorong Ayah Ambil Rapor Anak Sentuhan Cinta dalam Pendidikan
Ia menjelaskan bahwa perkembangan anak tidak pernah linier dan seragam, sehingga angka dengan sifatnya yang kaku gagal menangkap kenyataan itu. Lebih berbahaya lagi, lanjut Ali Yusa, angka mengubah orientasi belajar. “Anak tidak lagi bertanya apa yang dipelajari, melainkan berapa nilai yang akan didapat. Dari sini, pendidikan kehilangan ruhnya. Belajar berubah menjadi transaksi, aku belajar jika ada angka sebagai imbalan, dan rasa ingin tahu perlahan mati,” katanya.
Dengan mempertimbangkan pemikiran Tan Malaka tentang Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang menekankan pemikiran berdasarkan proses dan realitas konkret, Ali Yusa menyatakan bahwa nilai angka justru menyederhanakan proses belajar yang kompleks menjadi simbol tunggal.
“Angka 78 atau huruf A tidak menjelaskan apa yang anak pahami, bagaimana ia sampai pada kesalahan, atau potensi apa yang sedang tumbuh. Ia hanya angka mati yang sering disalahartikan sebagai kebenaran mutlak,” jelasnya.
Ia juga mengutip prinsip Tut Wuri Handayani dari Ki Hajar Dewantara yang menempatkan guru sebagai pendamping, bukan algojo akademik. “Setiap anak memiliki irama tumbuh yang berbeda. Ketika rapor dipenuhi angka, keberagaman kodrat ini diratakan. Yang tidak sesuai standar angka dianggap ‘kurang’, padahal mungkin ia hanya berbeda,” katanya.
Ali Yusa menambahkan bahwa nilai kuantitatif sering menciptakan kecemasan, kompetisi prematur, dan label psikologis yang terbawa hingga dewasa. “Banyak orang tua hari ini masih membawa luka ‘aku dulu anak nilai rendah’, padahal tak pernah ada yang benar-benar menjelaskan potensi mereka,” ungkapnya.
Bukan berarti menolak penilaian sama sekali, lanjut Ali Yusa, tetapi penilaian harus dalam bentuk narasi kualitatif yang personal dan mendalam. “Catatan guru tentang cara anak berpikir, keberanian mencoba, kemampuan bekerja sama, dan perkembangan emosional jauh lebih bernilai. Rapor seharusnya menjadi surat dialog antara sekolah dan orang tua, bukan papan skor,” tegasnya.
Menurutnya, menghentikan angka di rapor SD adalah langkah pertama untuk membangun generasi yang berpikir logis, berkarakter merdeka, dan berani menjadi diri sendiri. “Kita akan kehilangan kepastian semu, tetapi mendapatkan anak-anak yang belajar dengan makna, bukan dengan ketakutan,” pungkas Ali Yusa.(Kdm)
- Dipublikasi Pada 27 Desember 2025
- Baru Saja di Update Pada Desember 27, 2025
- Temukan Kami di Google News
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
