Infosurabaya.com – Jawa Timur“>Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima kunjungan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste di grahadi/” title=”Gedung Negara Grahadi”>Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (9/1/2026). Pertemuan perdana ini membahas penguatan kerja sama strategis, mulai dari transportasi publik, kesehatan, hingga pendidikan vokasi.
Salah satu fokus utama adalah pengembangan Surabaya regional Railway Line (SRRL) Fase 1 rute Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo. Khofifah menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Jerman dan Uni Eropa, khususnya melalui KfW Development Bank, dalam proyek transportasi publik tersebut.
“Transportasi publik di kawasan Aglomerasi Surabaya memang membutuhkan solusi. Insya Allah ground breaking SRRL ditargetkan pada 2027,” kata Khofifah.
Ia optimistis kehadiran SRRL akan mempermudah mobilitas warga Surabaya Raya, menekan biaya transportasi, sekaligus meningkatkan produktivitas masyarakat.
SRRL tercantum dalam Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029 dan telah diproses sejak masuk Blue Book Bappenas 2020–2024. Pada 30 Juni 2025, Pemprov Jatim dan KfW menandatangani perjanjian pinjaman senilai 297 juta euro.
Proyek ini akan mendukung elektrifikasi dan jalur ganda sepanjang sekitar 22 kilometer. Jalur tersebut diproyeksikan mampu melayani lebih dari 200 ribu penumpang per hari, memberi manfaat bagi 1,3 juta penduduk dalam dua tahun awal, sekaligus mengurangi kemacetan dan biaya logistik.
Selain infrastruktur, Khofifah menegaskan komitmen kerja sama di bidang mitigasi perubahan iklim. Salah satu langkah konkret adalah kolaborasi penanganan sampah yang saat ini tengah berproses di TPA Supit Urang, Kota Malang.
Di sektor kesehatan, Khofifah mengapresiasi kontribusi teknologi dan alat kesehatan asal Jerman yang selama ini digunakan di Jawa Timur. Ia mendorong kerja sama lanjutan berupa mentoring dokter spesialis, khususnya untuk memperkuat layanan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
“Jika kerja sama teknologi kesehatan disertai pendampingan dokter spesialis dari Jerman, peran RSUD Soetomo sebagai rumah sakit bertaraf internasional akan semakin kuat,” ujarnya.
Pembahasan juga menyentuh pendidikan vokasi. Khofifah menilai sistem vokasi Jerman sebagai salah satu yang paling maju dan berharap adanya program short course bagi guru dan siswa di Jawa Timur.
Tujuannya, menyiapkan sumber daya manusia dengan keterampilan yang relevan dan siap bersaing secara global. “Dunia kerja membutuhkan skill, bukan hanya ijazah,” kata Khofifah.
Menutup pertemuan, Khofifah optimistis kerja sama Jatim–Jerman akan melahirkan proyek strategis yang menopang tiga pilar pembangunan Jawa Timur: infrastruktur, peningkatan kualitas SDM, dan keberlanjutan lingkungan.
Duta Besar Jerman Ralf Beste menyatakan komitmen negaranya mendukung pengembangan transportasi publik dan agenda perubahan iklim di Jawa Timur. Ia menyebut Jatim, khususnya Surabaya, sebagai wilayah dengan pengaruh besar di Indonesia.
“Infrastruktur adalah kunci pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Terima kasih atas kepercayaan ini,” ujar Beste.
Senada, Head of Cooperation EU Delegation Jerome Pons menegaskan komitmen Uni Eropa melalui Global Gateway untuk mendorong investasi cerdas dan berkelanjutan di sektor transportasi, energi, kesehatan, pendidikan, dan penelitian.
Dalam empat tahun terakhir, Uni Eropa tercatat telah memobilisasi lebih dari 300 miliar euro investasi publik dan swasta untuk memperkuat kemitraan strategis dengan negara mitra, termasuk Indonesia dan Jawa Timur.(BS.za)
- Dipublikasi Pada 10 Januari 2026
- Baru Saja di Update Pada Januari 10, 2026
- Temukan Kami di Google News
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
