Quantcast

Kisah Siswa SMP Surabaya Mengolah Limbah Bawang Putih Jadi Cuan

Raihan menunjukkan hasil produk yang dihasilkan dari pengolahan sampah kulit bawang putih yang bisa bernilai ekonomi. (foto: Dok Raihan)

Infosurabaya.com – Limbah kulit bawang putih yang kerap berakhir di tempat sampah kini diolah menjadi produk ramah lingkungan bernilai ekonomi oleh Raihan Jouzu Syamsudin (14), siswa SMP Negeri 57 Surabaya. Berawal dari ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2024, Raihan mengembangkan inovasi yang kini menghasilkan tinta spidol, eco enzyme, hingga sabun cair.

Proyek tersebut mulai digarap sejak Februari 2024. Dari riset sederhana hingga produksi mandiri, Raihan berhasil mengumpulkan sekitar 3,12 ton kulit bawang putih yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Raihan menjelaskan ketertarikannya mengolah kulit bawang putih muncul karena melimpahnya limbah pertanian yang belum dimanfaatkan optimal. Data BPS 2020 mencatat produksi bawang putih nasional mencapai 81.805 ton per tahun, sebanding dengan volume limbah yang dihasilkan.

Dari riset yang dilakukannya, kulit bawang putih yang dibakar secara tertutup menghasilkan black carbon, senyawa yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif tinta spidol ramah lingkungan.

Di tangan terampilnya, Raihan siswa SPMN 57 Surabaya menyulap sampah kulit bawang menjadi produk yang menghasilkan nilai ekonomi. (Foto: Dok Raihan)

“Tahap awalnya kami keringkan, haluskan, lalu dibakar tertutup untuk menghasilkan pigmen hitam sebelum diolah jadi tinta,” ujar Raihan.

Selain tinta spidol, kulit bawang putih lembap yang tak terpakai diolah menjadi eco enzyme, lalu dikembangkan menjadi sabun cair ramah lingkungan tanpa bahan pembusa berlebih. Produk-produk tersebut dipasarkan melalui pameran lingkungan, kegiatan komunitas, hingga penjualan daring.

Respons masyarakat, kata Raihan, cukup positif. Eco enzyme dan sabun cair menjadi produk paling diminati karena dinilai aman dan fungsional untuk kebutuhan rumah tangga.

Meski ajang lomba telah usai, Raihan memastikan proyek ini terus berjalan. Hasil penjualan digunakan kembali untuk pengembangan usaha, sekaligus menambah uang saku. Saat ini, tinta spidol 30 mililiter dijual Rp15.000 per botol, sementara sabun cair 250 mililiter dipasarkan Rp10.000 per botol.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya, Febrina Kusumawati, menilai inovasi Raihan mencerminkan upaya membangun pola pikir kreatif dan solutif di kalangan pelajar.

Anak-anak perlu dibiasakan melihat masalah sebagai peluang. Raihan mampu melampaui pola pengolahan limbah yang selama ini hanya berhenti di kompos,” kata Febrina, Senin (19/1/2026).

Menurutnya, inovasi tersebut tak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang kewirausahaan sejak dini. Dispendik pun mendorong pengembangan lanjutan melalui kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) surabaya/” title=”Kota Surabaya”>Kota Surabaya.

“Dengan pendampingan yang tepat, inovasi pelajar bisa berkembang berkelanjutan,” ujarnya.

Prestasi Raihan sebagai Pangeran II Lingkungan Hidup surabaya/” title=”Kota Surabaya”>Kota Surabaya 2024 disebut menjadi bukti masih besarnya potensi pelajar Surabaya di bidang inovasi dan riset terapan.((Red))

  • Dipublikasi Pada 20 Januari 2026
  • Baru Saja di Update Pada Januari 20, 2026
  • Temukan Kami di Google News

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).


Follow WhatsApp Channel Infosurabaya.com
Follow