infoSurabaya|Surabaya – Puluhan karya mahasiswa program studi Visual Communication Design (VCD) Universitas Ciputra Surabaya, dipamerkan dalam acara bertajuk Monospace, pameran pendidikan kreatif di Ciputra World Surabaya.
Dalam pameran ini menampilkan karya mahasiswa lintas semester yang belakangan langsung diadopsi pemerintah, industri, komunitas, hingga mitra internasional.
Pameran ini sekaligus menegaskan penerapan ekosistem pentahelix secara utuh dalam proses pendidikan desain, mulai dari riset, kolaborasi, hingga implementasi di masyarakat.
Kepala VCD UC, Christian Anggrianto, menjelaskan bahwa Monospace lahir dari keinginan kampus untuk mengangkat derajat profesi desainer dan menunjukkan besarnya kontribusi desain dalam kehidupan publik.
“Kami ingin meningkatkan harga diri seorang desainer. Kami mau menunjukkan bahwa desain punya peran dan andil besar di masyarakat,” ujarnya, Jumat (21/11).
Di VCD UC, dikatakannya, sejak 2006 hingga 2025, kurikulum terus berevolusi menjawab isu-isu masyarakat, teknologi, lingkungan, dan entrepreneurship.
Christian menambahkan, evolusi kurikulum tersebut berpuncak pada riset kolaboratif dengan Kemenparekraf pada tahun lalu yang menghasilkan model kebijakan ekosistem pentahelix.
Ekosistem ini melibatkan lima unsur yaitu pendidikan, industri, komunitas, pemerintah, dan media, untuk menciptakan generasi kreatif khas Indonesia.
“Selama 19 tahun kami menemukan bahwa lima pihak ini tidak bisa dipisahkan kalau ingin menghasilkan generasi yang siap masa depan. Mahasiswa kami bertemu kampus lain, mengerjakan real client project di kelas, membangun portofolio, jaringan, sampai bisa diterima industri bahkan sebelum lulus,”urainya.
Keterlibatan pemerintah juga menjadi area penting dalam pameran ini. Mahasiswa VCD UC selama ini dipercaya mengerjakan berbagai proyek kota, mulai dari identitas visual makam Peneleh, rancangan identitas wilayah, hingga elemen desain untuk Pemkot Surabaya dan kebun binatang (KBS).
“Desain bukan cuma gambar yang cantik. Desain bisa memberikan perubahan. Industri bisa meningkatkan nilai ekonominya, pemerintah jadi lebih menarik, komunitas bisa naik kelas,” tegas Christian.
Selain bekerja dengan industri dan pemerintah, mahasiswa juga terjun ke komunitas, salah satunya melalui kegiatan mural dan pelatihan pengolahan tempe di kampung-kampung.
“Entrepreneurship bukan hanya profit, tapi bagaimana membuat impact ke lingkungan kita,” tambahnya.
Ketua acara Monospace, Evan Raditya Pratomo menuturkan bahwa peserta pameran berasal dari mahasiswa semester 1 hingga semester 6, dengan karya yang lahir dari berbagai kolaborasi, termasuk kolaborasi internasional.
Salah satu yang paling menonjol adalah proyek bersama Universitas dari Malaysia serta kerja sama dengan Wacom Jepang.
“Kolaborasi dengan Wacom sangat menarik. Kami bahkan ke Jepang untuk bertemu langsung dengan tim Wacom, lalu membawa proyek itu ke kelas. Ini kami pamerkan juga di Monospace,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari pemerintah pusat. Yanuar Arief, S.E., M.M., Adyatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama, memberikan apresiasi langsung saat membuka pameran.
“Apresiasi kepada VCD UC yang telah menerapkan ekosistem pentahelix dalam proses pembelajarannya. Menarik sekali bagaimana VCD bisa menarik dunia industri, kampus rekanan, komunitas, media, dan berkolaborasi dengan government,” ujarnya.
Ia menilai tujuan pameran ini, penting untuk memperbaiki persepsi keliru masyarakat tentang desain. “Desain berperan meningkatkan kualitas entitas bisnis, industri, komunitas, bahkan government,” tandasnya.(bro)
- Dipublikasi Pada 24 November 2025
- Baru Saja di Update Pada November 24, 2025
- Temukan Kami di Google News
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Follow WhatsApp Channel Infosurabaya.com
Follow
