Quantcast

Saat Identitas Disalahgunakan, Surabaya Sedang Diuji

Penulis: Kusnan

Infosurabaya.com – Sejak awal berdirinya, Surabaya bukan kota milik satu suku atau kelompok tertentu. Kota Pahlawan tumbuh dari perjumpaan banyak identitas: dari Jawa, Madura, Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga komunitas Tionghoa dan Arab yang ikut membentuk denyut sosial dan ekonominya.

Surabaya lahir sebagai kota temu, bukan kota klaim. Kebersamaan menjadi fondasi utama, bukan soal siapa yang datang lebih dulu, melainkan siapa yang bersedia menjaga ruang hidup bersama.

Sejarah mencatat, identitas di Surabaya tak pernah digunakan untuk saling meniadakan. Semangat “arek-arek Suroboyo” justru tumbuh melampaui asal-usul. Nilai inilah yang pernah dicontohkan tokoh pergerakan seperti Mohammad Yamin. Meski lahir dari organisasi berbasis kedaerahan, Yamin menjadikan organisasi sebagai jembatan persatuan—bukan alat dominasi.

Namun, semangat itu kini menghadapi ujian. Sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) berbasis kedaerahan dinilai menyimpang dari fungsi awalnya. Identitas yang seharusnya menjadi ruang solidaritas, dalam praktik tertentu berubah menjadi alat tekanan sosial dan ekonomi. Dari titik inilah keresahan warga muncul.

Masalahnya bukan pada keberagaman, melainkan pada cara identitas disalahgunakan. Ketika kesukuan dipelintir menjadi legitimasi penguasaan ruang publik, rasa aman warga ikut terancam.

Dalam konteks itu, figur seperti Yasin kerap muncul sebagai simbol peringatan. Bukan untuk dibenarkan, melainkan untuk dipahami sebagai cermin kegagalan kolektif. Ia menggambarkan bagaimana primordialisme yang dibiarkan tumbuh bisa berubah menjadi tindakan premanisme yang mencederai kehidupan kota.

Yasin bukan lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari pembiaran panjang: ketika hukum ragu ditegakkan, kekerasan dinegosiasikan atas nama stabilitas, dan identitas dijadikan alat tawar-menawar. Dalam ruang abu-abu itulah, premanisme sosial menemukan pembenaran.

Melawan praktik semacam ini bukan berarti memusuhi suku tertentu atau menolak keberadaan ormas. Surabaya sejak lama hidup dari kontribusi para pendatang. Yang ditolak adalah cara berpikir eksklusif—tinggal dan mencari hidup di kota ini, tetapi abai menjaga kebersamaan.

Perbedaannya tegas. Jika Yamin menggunakan identitas untuk menyatukan, maka praktik ala Yasin justru menciptakan sekat baru. Yamin melahirkan persatuan, sementara premanisme identitas menumbuhkan ketakutan.

Karena itu, sikap masyarakat dan negara harus jelas. Setiap tindakan premanisme, dari siapa pun pelakunya dan atas nama organisasi apa pun, merupakan urusan hukum. Negara wajib hadir tanpa kompromi untuk menjaga rasa aman warga.

Surabaya membutuhkan lebih banyak “Yamin-Yamin baru”—pemuda pendatang maupun anak kota—yang memandang Surabaya bukan sekadar tempat singgah, melainkan rumah. Pemuda yang menjadikan ormas sebagai ruang pengabdian, bukan alat kuasa.

Surabaya Rumah Kita hanya bisa dijaga jika warganya berani menolak premanisme dalam bentuk apa pun, dan secara sadar memilih jalan persatuan, keadilan, serta tanggung jawab bersama. Jika tidak, sejarah akan mencatat bahwa Kota Pahlawan runtuh bukan karena perbedaan, melainkan karena pembiaran terhadap mereka yang memecah belah atas nama identitas.

  • Dipublikasi Pada 2 Januari 2026
  • Baru Saja di Update Pada Januari 2, 2026
  • Temukan Kami di Google News

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).


Follow WhatsApp Channel Infosurabaya.com
Follow