Portal Berita Surabaya

Dosen Ubaya Punya 4 Paten Herbal dan Rekor MURI

Dr. apt. Marisca Evalina Gondokesumo, S.H., M.H., S.Farm., M.Farm.Klin., dosen FF Ubaya yang memiliki empat paten dan satu MURI (ist)
Portal Berita Surabaya

infosurabaya.com-Memanfaatkan kulit jagung menjadi tisu antibakteri hingga meneliti potensi kulit manggis untuk menghambat pertumbuhan sel kanker leukemia. Inovasi tersebut menjadi bagian dari kiprah Dr. apt. Marisca Evalina Gondokesumo, dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya), yang telah mengantongi empat paten di usia 38 tahun.

Tak hanya menghasilkan inovasi di bidang kesehatan, Marisca juga memimpin pengembangan desa atsiri di Kabupaten Mojokerto yang berhasil meraih rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

Empat paten yang dimiliki Marisca mencakup obat kumur berbasis ekstrak daun stevia, tisu wajah berbahan kulit jagung, nanopartikel ekstrak kulit manggis untuk menghambat pertumbuhan sel kanker leukemia, serta tisu antibakteri berbahan kulit jagung dengan tambahan kitosan dan ekstrak kulit manggis.

Berbagai inovasi tersebut berangkat dari ketertarikannya mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia, terutama tanaman dan bahan alami yang berpotensi dikembangkan untuk mendukung kesehatan masyarakat.

Menurut Marisca, Indonesia memiliki biodiversitas yang sangat kaya. Namun, potensi tersebut masih perlu didukung lebih banyak penelitian ilmiah agar manfaatnya dapat dibuktikan dan dikembangkan secara optimal.

“Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas nomor dua di dunia yang seharusnya dapat dimaksimalkan untuk menunjang kualitas kesehatan masyarakatnya. Namun, pada faktanya, pemanfaatan dan riset ilmiah untuk pembuktian manfaatnya masih sangat minim dilakukan,” ujar Marisca.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah tisu antibakteri berbahan kulit jagung. Produk ini memanfaatkan bahan yang kerap dianggap sebagai limbah pertanian untuk dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Dalam pengembangannya, kulit jagung dipadukan dengan kitosan dan ekstrak kulit manggis. Kombinasi tersebut dirancang untuk memberikan fungsi antibakteri sekaligus memanfaatkan bahan alami yang lebih ramah lingkungan.

“Simpel, namun berdampak. Mungkin itu deskripsi yang tepat untuk menjelaskan inovasi tisu jagung antibakteri hasil pengembangan saya dan tim,” katanya.

Inovasi tersebut mengantarkan Marisca terpilih sebagai salah satu dosen muda dengan paten inspiratif. Sertifikat paten sederhana diserahkan langsung oleh Menteri Hukum Supratman Andi Agtas bersama Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Hermansyah Siregar di Surabaya pada September 2026.

Selain mengembangkan produk berbahan limbah pertanian, Marisca menaruh perhatian pada potensi tanaman lokal untuk penelitian kesehatan. Salah satunya melalui invensi nanopartikel ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana) yang ditujukan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker leukemia HL-60. Inovasi tersebut memperoleh paten pada 2025.

Latar belakang akademiknya turut mendukung pengembangan riset tersebut. Marisca menyelesaikan studi doktoral di bidang biomedik saat berusia 29 tahun. Keahlian itu menjadi salah satu bekal dalam mengeksplorasi potensi bahan alam melalui pendekatan ilmiah.

Kembangkan Desa Atsiri di Mojokerto

Perhatian Marisca terhadap kekayaan alam Indonesia tidak berhenti di laboratorium. Ia juga terlibat dalam pengabdian masyarakat selama beberapa tahun di Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Bersama timnya, Marisca mengintegrasikan kegiatan akademik dengan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan desa atsiri. Program tersebut berhasil mengantarkan desa itu meraih rekor MURI.

Pengembangan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendorong pemanfaatan potensi tanaman lokal agar memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Di lingkungan kampus, Marisca juga pernah menjabat sebagai Ketua Pusat Informasi dan Pengembangan Obat Tradisional (PIPOT) Fakultas Farmasi Ubaya pada periode 2022–2025. Dalam posisi itu, ia memprakarsai berbagai kegiatan untuk mendukung perkembangan obat tradisional Indonesia.

Saat ini, Marisca mengemban tugas sebagai Koordinator Sentra Kekayaan Intelektual Ubaya. Peran tersebut berkaitan dengan upaya perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan kekayaan intelektual secara profesional dan berkelanjutan.

Ke depan, ia berkomitmen melanjutkan penelitian sekaligus mendorong mahasiswa agar berani menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Sebagai seorang dosen, saya sangat suka apabila para mahasiswa juga memiliki semangat yang tinggi untuk berinovasi. Dalam berbagai riset dan prestasi yang menjadi buah perjuangan mereka selama ini, terkandung rasa haru, bangga, dan kesenangan tersendiri,” tuturnya.

Marisca berharap semakin banyak potensi etnobotani Indonesia yang dapat diteliti dan dikembangkan menjadi produk herbal berbasis bukti ilmiah.

Baginya, kekayaan alam tidak cukup hanya dikenal sebagai sumber daya. Melalui penelitian, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat, potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi solusi yang mendukung kesehatan sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.(bro)

  • Dipublikasi Pada 20 Oktober 2026
  • Baru Saja di Update Pada Oktober 20, 2026
  • Temukan Kami di Google News

Bagikan ke Media Sosial

Unduh slide siap posting untuk Instagram, TikTok, X & Koran digital

📸 5 slide sosmed 📰 Koran multi-slide 📝 Caption siap pakai 🎨 Format 4:5 HD

Social Publisher

Posting ke Instagram

REELS 9:16 Slide 1/5
INSTAGRAM REELS

0/2200
💡 Tips: Hasil slide konsisten di HP & desktop karena ukuran capture fixed di 320px.
Follow WhatsApp Channel Infosurabaya
Follow

Trust Verified On Google
Jadikan Infosurabaya sebagai sumber berita tepercaya Anda di Google.
Add as a preferred source on Google
Disclaimer
Konten Dosen Ubaya Punya 4 Paten Herbal dan Rekor MURI disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Powered By Infosurabaya
Portal Berita Surabaya
Portal Berita Surabaya