infosurabaya.com-Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH Unair) mengenalkan teknologi pakan silase berbahan limbah jagung dan jerami padi kepada peternak di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Inovasi ini ditujukan untuk menjaga ketersediaan pakan sekaligus mendukung kesehatan reproduksi dan produktivitas sapi betina.
Program tersebut dikemas melalui pengabdian kepada masyarakat bertajuk IMPACTA (Integrated Multi-Partner Action, Collaboration, and SDGs Acceleration). Kegiatan ini melibatkan pemerintah daerah dan Kelompok Tani Karya Utama 01 yang beranggotakan 20 orang.
Ketua tim pengabdian masyarakat FKH Unair, Lita Rakhma Yustinasari, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peternakan berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya lokal dan kolaborasi lintas sektor.
Salah satu persoalan yang dihadapi peternak adalah ketersediaan pakan berkualitas sepanjang tahun. Perubahan musim dan terbatasnya hijauan dapat memengaruhi kecukupan nutrisi sapi, terutama sapi betina yang membutuhkan asupan memadai untuk menjaga kondisi tubuh dan mendukung fungsi reproduksi.
Melalui teknologi silase, limbah pertanian yang tersedia di sekitar peternakan dapat diolah menjadi pakan awetan. Pakan tersebut dapat disimpan sebagai cadangan untuk digunakan ketika pasokan hijauan segar berkurang.
Limbah Pertanian Diolah Jadi Pakan
Dalam kegiatan ini, dua narasumber, yakni Dr. Trilas Sardjito dan Prof. Dr. Mohammad Anam Al Arif, menyampaikan materi mengenai optimalisasi kinerja reproduksi dan produktivitas sapi betina melalui teknologi silase berbasis limbah jagung dan jerami padi.
Materi tersebut menekankan hubungan antara manajemen pakan, kesehatan ternak, dan keberhasilan reproduksi. Ketersediaan pakan yang sesuai kebutuhan fisiologis menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kondisi tubuh sapi betina dan mendukung produktivitasnya.
Pembuatan silase memanfaatkan proses fermentasi untuk mengawetkan bahan pakan. Jika dilakukan menggunakan bahan dan prosedur yang tepat, teknologi ini dapat membantu mempertahankan kualitas pakan sekaligus mengurangi ketergantungan peternak terhadap ketersediaan hijauan musiman.
Namun, kualitas silase tetap perlu diperhatikan. Komposisi nutrisi, tingkat kesukaan ternak terhadap pakan, serta kebutuhan sapi pada setiap fase fisiologis menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam penerapannya.
Selain meningkatkan pemanfaatan limbah pertanian, teknologi ini berpotensi membantu peternak mengelola sumber daya yang tersedia secara lebih efisien.
Libatkan Dosen dan Mahasiswa Lintas Disiplin
Program IMPACTA dipimpin Lita Rakhma Yustinasari dengan melibatkan dosen serta mahasiswa jenjang sarjana dan magister dari sejumlah bidang keilmuan.
Mahasiswa yang terlibat berasal dari program Agribisnis Veteriner, Ilmu Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Biologi Reproduksi, serta Vaksinologi dan Imunoterapetika.
Pendekatan lintas disiplin tersebut mengintegrasikan aspek kesehatan hewan, reproduksi, nutrisi, dan pengelolaan usaha peternakan. Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian dari penerapan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, FKH Unair bermitra dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Tuban. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok peternak.
Program tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta tujuan ke-17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan.
Melalui IMPACTA, FKH Unair mendorong pemanfaatan teknologi pakan yang sesuai dengan kebutuhan peternak. Keberlanjutan program diharapkan dapat membantu meningkatkan kapasitas peternak, efisiensi usaha, dan produktivitas sapi melalui pengelolaan pakan yang lebih baik.(bro)
- Dipublikasi Pada 13 Oktober 2026
- Baru Saja di Update Pada Oktober 13, 2026
- Temukan Kami di Google News
Bagikan ke Media Sosial
Unduh slide siap posting untuk Instagram, TikTok, X & Koran digital

