Infosurabaya.com — Sidang pleno Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026), menjadi ruang evaluasi perjalanan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selama Masa Khidmah 2021–2026.
Setelah Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, atau Gus Yahya, menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), pimpinan sidang membuka kesempatan kepada peserta Muktamar untuk memberikan tanggapan, pandangan, komentar, kritik, dan evaluasi terhadap perjalanan kepengurusan selama satu periode.
Tanggapan tersebut disampaikan melalui perwakilan pengurus wilayah sebagai bagian dari mekanisme persidangan.
Forum kemudian menjadi ruang bagi suara dari berbagai daerah untuk memberikan penilaian terhadap program dan langkah yang telah dijalankan PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya.
Perwakilan dari berbagai kawasan Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Madura, hingga daerah-daerah kepulauan lainnya, menjadi bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama yang memiliki peran dalam perjalanan organisasi.
Dalam struktur organisasi, NU tidak hanya digerakkan oleh PBNU di tingkat pusat.
Roda organisasi juga berjalan melalui Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), hingga Pengurus Ranting NU.
Selain itu, lembaga-lembaga NU, badan-badan khusus, badan otonom, pesantren, para kiai, ulama, serta warga Nahdliyin di berbagai daerah turut menjadi kekuatan besar dalam menjalankan agenda organisasi.
Dalam sejumlah tanggapan yang berkembang dalam forum, kepengurusan PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya mendapat apresiasi dari peserta dan perwakilan wilayah.
Sejumlah pihak menyampaikan rasa puas dan terima kasih atas berbagai program serta perubahan yang dinilai telah dilakukan selama Masa Khidmah 2021–2026.
Apresiasi tersebut muncul karena berbagai langkah yang dijalankan dinilai membawa perkembangan positif bagi organisasi.
NU disebut mengalami kemajuan yang cukup pesat dan semakin mampu memperkuat perannya, baik dalam kehidupan keagamaan, sosial, kemasyarakatan maupun dalam pengembangan organisasi.
Salah satu gambaran yang muncul dalam tanggapan peserta adalah perubahan kondisi NU yang sebelumnya diibaratkan berada pada “garis merah”, kemudian bergerak menuju “garis hijau”.
Ungkapan tersebut digunakan sebagai gambaran atas perubahan yang dinilai positif oleh sejumlah pihak terhadap kondisi dan perkembangan organisasi selama kepemimpinan Gus Yahya.
Menurut pandangan tersebut, perjalanan menuju kondisi yang lebih baik tidak terjadi secara instan.
Kemajuan NU disebut sebagai hasil dari proses panjang yang melibatkan seluruh unsur organisasi, mulai dari pengurus pusat hingga struktur paling bawah.
PBNU menjalankan arah dan kebijakan organisasi di tingkat nasional, sementara PWNU, PCNU, MWCNU, dan Ranting NU menjadi kekuatan penting dalam menerjemahkan serta menjalankan berbagai program di daerah.
Karena itu, keberhasilan yang dicapai selama satu periode kepengurusan tidak dapat dilepaskan dari kerja bersama seluruh jajaran Nahdlatul Ulama.
Gus Yahya dalam penyampaian LPJ juga menegaskan bahwa laporan yang disampaikan bukan merupakan klaim atas keberhasilan orang per orang maupun keberhasilan PBNU semata.
Menurutnya, berbagai ikhtiar dan capaian yang telah dilakukan merupakan hasil kerja bersama seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama.
Doa para kiai, kekuatan pesantren, kerja keras para pengurus, serta partisipasi warga Nahdliyin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan organisasi.
LPJ tersebut disampaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas amanah yang telah diberikan kepada jajaran kepengurusan.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan dan kesalahan selama menjalankan amanah.
Sikap tersebut menjadi bagian dari pertanggungjawaban moral kepengurusan kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama.
Sidang pleno kemudian tidak hanya menjadi forum untuk mendengarkan laporan, tetapi juga menjadi ruang evaluasi bersama.
Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan terhadap apa yang telah dilakukan selama masa kepengurusan.
Apresiasi yang muncul dari sejumlah wilayah menunjukkan adanya penilaian positif terhadap berbagai perubahan yang telah dilakukan.
Namun, forum Muktamar juga tetap membuka ruang terhadap kritik dan masukan sebagai bagian dari proses demokrasi organisasi.
Hal itu menjadi penting karena Muktamar merupakan forum tertinggi Nahdlatul Ulama dalam melakukan evaluasi sekaligus menentukan arah perjalanan organisasi pada masa mendatang.
Memasuki abad kedua perjalanan NU, organisasi menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
NU dituntut untuk tetap menjaga nilai-nilai dan tradisi yang diwariskan para ulama, sekaligus memiliki kemampuan untuk terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Tradisi harus semakin kuat mengakar, sementara organisasi harus semakin profesional dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas.
Independensi organisasi juga menjadi salah satu hal yang terus ditekankan agar Nahdlatul Ulama mampu menjalankan khidmahnya secara mandiri dan tetap berpihak pada kemaslahatan umat.
Berbagai kemajuan yang dinilai telah dicapai selama kepemimpinan Gus Yahya diharapkan dapat menjadi fondasi untuk perjalanan organisasi berikutnya.
Muktamar ke-35 NU menjadi momentum bagi seluruh struktur organisasi untuk memperkuat konsolidasi.
Dari PBNU di tingkat pusat, PWNU di tingkat provinsi, PCNU di tingkat kabupaten dan kota, MWCNU di tingkat kecamatan, hingga Ranting NU di desa dan kelurahan, seluruhnya diharapkan tetap bergerak dalam satu arah.
Dengan kekuatan jaringan yang tersebar di berbagai pulau dan wilayah Indonesia, NU diharapkan mampu terus memperluas manfaat dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Apresiasi yang disampaikan sejumlah peserta terhadap kepemimpinan Gus Yahya pun menjadi bagian dari dinamika Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU.
Bagi mereka, berbagai perubahan yang telah dilakukan menjadi bukti bahwa organisasi terus bergerak dan berkembang.
Dari gambaran kondisi yang sebelumnya disebut berada di “garis merah” menuju “garis hijau”, NU kini diharapkan terus melangkah dengan fondasi organisasi yang semakin kuat.
Sidang pleno Muktamar ke-35 NU pun menjadi momentum untuk tidak hanya melihat perjalanan yang telah dilalui, tetapi juga menyiapkan arah baru bagi masa depan.
Dengan evaluasi, apresiasi, kritik, dan masukan dari berbagai wilayah, Nahdlatul Ulama diharapkan semakin kokoh memasuki abad keduanya.
Seluruh elemen NU pun diharapkan terus menjaga persatuan, memperkuat organisasi, melanjutkan berbagai kemajuan, serta menghadirkan kemanfaatan yang semakin luas bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Dengan semangat warisan para ulama, Nahdlatul Ulama diharapkan tetap hadir sebagai kekuatan yang membawa perdamaian, persaudaraan, dan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat dalam semangat rahmatan lil alamin.
- Dipublikasi Pada 28 Agustus 2026
- Baru Saja di Update Pada Agustus 28, 2026
- Temukan Kami di Google News
