Infosurabaya | Tarif Tukang Bangunan Harian vs Borongan Surabaya, Pukul sembilan pagi, gang sempit di Rungkut Tengah hanya selebar satu motor. Sebuah rumah sedang direnovasi. Tiga tukang duduk di lantai dasar, mencampur semen dengan sekop. Material pasir menumpuk di teras, sebagian tumpah ke jalan.
Seorang pria paruh baya, Pak Slamet, mengawasi dari kursi plastik di depan rumah. Ia bilang tukangnya bekerja harian. “Empat orang, bayar per hari. Saya hitung sendiri biaya materialnya,” katanya singkat, tanpa melepas pandangan dari pekerja.
Di gang yang sama, satu rumah lagi tengah dibangun. Bedanya, pemiliknya tidak ada di lokasi. Hanya ada papan proyek kecil bertuliskan nama kontraktor. Sistemnya borongan. Dua metode, satu lingkungan, dua pendekatan biaya yang berbeda.
Cara Kerja dan Risiko Masing-Masing
Dalam sistem harian, pemilik rumah membayar tukang berdasarkan jumlah hari kerja. Tarifnya bervariasi, tergantung keahlian dan lokasi proyek. Berdasarkan data pasar yang dihimpun dari sejumlah sumber lokal, upah tukang harian di Surabaya berada di kisaran Rp175.000 hingga Rp250.000 per hari per orang .
Angka ini belum termasuk material, konsumsi, dan pengawasan. Artinya, biaya akhir sangat bergantung pada berapa lama proyek selesai. Semakin lambat, semakin mahal.
“Kalau tukangnya rajin, harian bisa lebih murah. Tapi kalau sering bolong, ya gede biayanya,” ujar seorang mandor yang enggan disebut namanya saat ditemui di lokasi proyek Rungkut.
Sebaliknya, sistem borongan menetapkan harga tetap sejak awal. Pemilik rumah membayar berdasarkan volume pekerjaan atau luas bangunan. Kontraktor menyediakan tenaga, material, dan manajemen proyek.
Harga borongan bangun rumah di Surabaya Timur mulai dari Rp3.000.000 per meter persegi . Estimasi serupa juga muncul dari sejumlah kontraktor yang memasarkan jasanya secara online, dengan rentang Rp3.000.000 hingga Rp3.800.000 per meter persegi untuk standar sederhana .
Satu kontraktor bahkan mencantumkan harga borongan atap galvalum sebesar Rp215.000 per meter persegi, sudah termasuk material dan tukang .
Risiko Tersembunyi dalam Dua Sistem
Sistem harian sering dianggap lebih murah karena pemilik bisa mengontrol pengeluaran harian. Namun, tanpa pengawasan ketat, proyek bisa molor berbulan-bulan. Biaya total justru membengkak.
Seorang kontraktor di Rezeki Jaya Perkasa mencatat pengalaman kliennya: renovasi dua lantai yang seharusnya selesai tiga bulan, molor menjadi sepuluh bulan karena tukang sering tidak hadir . Total biaya akhirnya melampaui estimasi borongan.
Sistem borongan juga punya jebakan. Modal awal lebih besar, biasanya 25 persen uang muka . Perubahan desain di tengah proyek bisa memicu biaya tambahan yang tidak kecil.
“Kalau klien minta tambah ornamen atau ganti material, harga baru harus dihitung ulang,” kata Ir. dari Rezeki Jaya Perkasa, menggambarkan fleksibilitas yang terbatas dalam kontrak borongan .
Cara Menghindari Mark-up Harga
Transparansi adalah kuncinya. Minta rincian Rencana Anggaran Biaya sebelum menyetujui apa pun. RAB harus mencantumkan volume pekerjaan, spesifikasi material, dan harga satuan.
Untuk sistem harian, catat kehadiran tukang setiap hari. Sepakati jam kerja, jumlah tukang, dan target harian. Jangan bayar di muka untuk beberapa hari sekaligus.
Untuk borongan, pastikan kontrak memuat klausul perubahan. Tanyakan apa yang terjadi jika ada penambahan pekerjaan. Minta garansi tertulis. Beberapa kontraktor menawarkan garansi tiga bulan hingga 99 hari .
Hindari membayar penuh sebelum pekerjaan selesai. Sistem termin bertahap jauh lebih aman. Contohnya, 25 persen saat material datang, 25 persen setelah 60 persen pekerjaan, dan pelunasan setelah semuanya rampung .
Perhatikan juga lokasi proyek. Gang sempit di Rungkut Tengah bisa menambah biaya transportasi material. Akses terbatas memaksa material dipindahkan secara manual .
Tabel Perbandingan
| Aspek | Sistem Harian | Sistem Borongan |
|---|---|---|
| Tarif/Estimasi | Rp175.000–Rp250.000 per orang per hari | Mulai Rp3.000.000 per m² |
| Pembayaran | Harian, setelah kerja | Termin, biasanya ada DP 25% |
| Material | Dibeli pemilik | Biasanya termasuk kontraktor |
| Manajemen | Pemilik mengawasi sendiri | Kontraktor mengelola |
| Risiko Utama | Proyek molor, biaya membengkak | Kurang fleksibel, modal awal besar |
| Kepastian Biaya | Rendah | Tinggi |
| Garansi | Tidak ada standar | Ada, bervariasi |
Pilihan Ada di Tangan Pemilik
Di gang Rungkut Tengah, dua rumah itu terus dibangun. Yang satu dengan suara sekop dan tawa tukang. Yang lain sunyi, hanya sesekali mandor datang mengecek.
Pak Slamet masih duduk di kursinya, menghitung hari. Ia tahu, setiap hari yang berlalu adalah biaya. “Yang penting jadi,” katanya. Tidak ada jawaban yang benar untuk semua orang. Yang ada hanya perhitungan yang cocok, dan keberanian menanggung risiko masing-masing.
Catatan Redaksi: Artikel ini murni hasil liputan investigasi lapangan tim infosurabaya.com demi transparansi publik, dan tidak disponsori oleh pihak penyedia jasa mana pun. Tarif dan layanan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan vendor.
- Dipublikasi Pada 30 September 2026
- Baru Saja di Update Pada September 30, 2026
- Temukan Kami di Google News
Bagikan ke Media Sosial
Unduh slide siap posting untuk Instagram, TikTok, X & Koran digital

