infosurabaya.com-Musyawarah Nasional (Munas) XXXIII Tarjih Muhammadiyah akan membahas lima agenda utama, mulai dari fikih lanjut usia, kedaulatan pangan, hingga pengembangan tuntunan keislaman. Kegiatan yang berlangsung pada 5–7 November 2026 di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) ini diperkirakan diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Ustadi Hamsah, M.Ag., menjelaskan, Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah menjadi momentum untuk memperkuat peran pemikiran Islam dalam menjawab perkembangan zaman dan persoalan masyarakat.
Lima materi yang dibahas meliputi fikih lanjut usia, fikih kedaulatan pangan, Risalah Akidah Islam Muhammadiyah, Risalah Akhlak Islam Praktis, serta pengembangan tuntunan dan Himpunan Putusan Tarjih.
Menurut Ustadi, pembahasan fikih lanjut usia diarahkan untuk menghadirkan tuntunan Islam yang mendukung pelayanan, perlindungan, kesejahteraan, dan kenyamanan kelompok lansia. Islam diharapkan hadir untuk memuliakan dan memberdayakan mereka, bukan meminggirkan kelompok yang membutuhkan perhatian tersebut.
Agenda kedua, fikih kedaulatan pangan, membahas tanggung jawab keagamaan dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan. Persoalan pangan dinilai berkaitan langsung dengan keberlangsungan kehidupan manusia, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan dakwah.
Materi ketiga adalah Risalah Akidah Islam Muhammadiyah. Melalui pembahasan ini, Muhammadiyah berupaya mempertegas karakter akidah Islam yang berlandaskan kasih sayang, membebaskan, memajukan, serta memberikan solusi bagi persoalan kehidupan.
Selanjutnya, Risalah Akhlak Islam Praktis akan mengembangkan tuntunan akhlak yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai Islam berkemajuan diharapkan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diwujudkan melalui perilaku yang membawa manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Agenda kelima adalah pengembangan tuntunan keislaman Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid. Salah satu persoalan yang akan dibahas berkaitan dengan bacaan taṡwīb, yakni penambahan seruan ash-shalātu khairum minan naum dalam azan Subuh.
Menurut Ustadi, persoalan tersebut perlu dikaji dengan merujuk pada sumber ajaran Islam dan hadis agar tersedia tuntunan yang dapat menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah.
Peserta yang terlibat dalam pembahasan berasal dari unsur pimpinan wilayah Muhammadiyah se-Indonesia, PP Muhammadiyah, Majelis Tarjih dan Tajdid, serta unsur peninjau dari lingkungan Muhammadiyah. Peserta juga mencakup perwakilan majelis di tingkat daerah, khususnya di Jawa Timur.
Logo Munas Angkat Identitas Sejarah Surabaya
Menjelang pelaksanaan Munas, panitia telah meluncurkan logo resmi yang mengangkat identitas Kota Surabaya dan perjalanan pemikiran Tarjih Muhammadiyah.
Ustadi menjelaskan, Surabaya dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena memiliki kaitan historis dengan K.H. Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah yang berperan dalam perkembangan pemikiran Islam dan gerakan Tarjih.
Menurut dia, pelaksanaan Munas di Surabaya menjadi upaya menyambungkan pembahasan pemikiran keislaman masa kini dengan warisan intelektual para pendahulu Muhammadiyah.
Logo Munas menampilkan unsur Tugu Surabaya, Jembatan Suramadu, dan matahari. Tugu Surabaya merepresentasikan identitas kota sekaligus semangat keteguhan dalam memperjuangkan kebenaran dan kemajuan.
Sementara itu, Jembatan Suramadu melambangkan penghubung antara teks dan ajaran Islam dengan perkembangan zaman. Simbol tersebut juga menggambarkan harapan agar nilai-nilai keislaman dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Adapun matahari yang bersinar melambangkan komitmen Muhammadiyah untuk terus memberikan pencerahan melalui pemikiran yang progresif, terbuka, moderat, dan bijaksana dalam merespons persoalan masyarakat.
Perbedaan warna dalam logo menggambarkan keragaman respons umat Islam terhadap perkembangan kehidupan. Respons tersebut diharapkan tetap berlandaskan Al-Qur’an dan sunah serta berorientasi pada kemaslahatan, kemajuan, dan kesejahteraan.
Ustadi berharap Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah dapat melahirkan generasi penerus yang mampu mengembangkan pemikiran Islam berkemajuan, sebagaimana semangat perjuangan K.H. Mas Mansur.
Umsura Siapkan Fasilitas dan Libatkan Sivitas Akademika
Rektor Umsura, Prof. Mundakir, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan PP Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid yang menunjuk Umsura sebagai tuan rumah Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah.
Mundakir mengatakan, pihak universitas menyiapkan berbagai kebutuhan penyelenggaraan, mulai dari fasilitas persidangan, layanan peserta, konsumsi, dukungan teknologi informasi, hingga kebutuhan pendukung lainnya.
“Kami menyambut baik dan bersyukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Umsura. Ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus amanah yang akan kami persiapkan sebaik mungkin demi kesuksesan Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah,” ujar Mundakir.
Menurutnya, penyelenggaraan Munas di lingkungan kampus juga menjadi kesempatan untuk memperluas pemahaman sivitas akademika mengenai ideologi dan pemikiran Muhammadiyah.
Ia berharap kegiatan ini dapat memperkaya wawasan dosen dan mahasiswa, khususnya di Fakultas Studi Islam dan Peradaban, mengenai cara Muhammadiyah merespons persoalan akidah, ibadah, serta perubahan sosial melalui perspektif Islam.
Mundakir menambahkan, keterlibatan dosen yang aktif dalam Majelis Tarjih diharapkan dapat memperkuat pertukaran gagasan antara forum keagamaan dan lingkungan akademik.
Melalui penyelenggaraan Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah, Umsura berharap tradisi intelektual Muhammadiyah semakin berkembang dan menghasilkan pemikiran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun peradaban Islam berkemajuan.(bro)
- Dipublikasi Pada 12 Oktober 2026
- Baru Saja di Update Pada Oktober 12, 2026
- Temukan Kami di Google News
Bagikan ke Media Sosial
Unduh slide siap posting untuk Instagram, TikTok, X & Koran digital

