infosurabaya.com-Penyakit stroke kini tidak hanya mengancam kelompok lanjut usia. Dokter Spesialis Saraf bagian intervensi kateterisasi stroke RSUP Kemenkes Surabaya, dr. Locoparta Agung, menyebut tren penderita stroke mulai bergeser ke usia lebih muda, termasuk kelompok usia 30 tahunan.
Menurut dr. Loco, perubahan tersebut berkaitan erat dengan pola hidup tidak sehat. Setidaknya ada empat kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko stroke, yakni kurang tidur, minim aktivitas fisik, paparan rokok, dan konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan.
“Kita sering begadang. Ketika merokok, kurang tidur, kurang aktivitas, kurang olahraga, faktor risiko akan meningkat,” kata dr. Loco usai sosialisasi layanan saraf di RSUP Kemenkes Surabaya, Senin (8/9/2026).
Ia menjelaskan, kurang tidur, terutama kebiasaan tidur malam kurang dari enam hingga delapan jam, menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Risiko juga meningkat ketika seseorang jarang melakukan aktivitas fisik, termasuk kurang mendapatkan paparan sinar matahari pada pagi hari.
Kebiasaan merokok juga menjadi faktor risiko, baik bagi perokok aktif maupun mereka yang terus terpapar asap rokok sebagai perokok pasif.
Selain itu, konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan dapat memperburuk kondisi pembuluh darah. Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat memengaruhi tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, hingga asam urat yang kemudian meningkatkan risiko stroke.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala dinilai penting dilakukan sejak usia muda. Pemeriksaan dapat meliputi tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat untuk mengetahui sekaligus mengendalikan faktor risiko sejak dini.
RS KEMENKES PERKUAT LAYANAN STROKE
Stroke menjadi salah satu layanan unggulan di RS Kemenkes Surabaya, bersama penyakit jantung, gagal ginjal, dan kanker. Penguatan layanan stroke dilakukan untuk menekan angka kematian dan kecacatan akibat serangan stroke.
Momentum HUT ke-2 RS Kemenkes Surabaya juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar mengenali gejala stroke dan segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan.
Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha Muliana Lumogom Siahaan, S.H., MARS., M.H.Kes., mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap gejala stroke sebagai keluhan biasa.
“Kalau tiba-tiba mengalami gejala seperti itu, jangan bilang angin duduk. Itu tanda-tanda stroke yang harus segera kita atasi. Kurang dari empat jam sudah harus sampai di rumah sakit,” ujar dr. Martha.
Menurutnya, waktu sangat menentukan keberhasilan penanganan stroke. Semakin cepat pasien mendapatkan pertolongan, semakin besar peluang untuk meminimalkan risiko kematian maupun kecacatan.
Namun, masih banyak pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi terlambat. Di RS Kemenkes Surabaya, pasien yang datang kurang dari empat jam jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan pasien yang datang terlambat.
“Di sini rata-rata ada beberapa pasien yang datang dalam waktu kurang dari empat jam. Tapi di luar itu ada sekitar lima kali lipat yang datang terlambat. Ada yang sudah sehari, bahkan ada yang sampai 23 hari di rumah baru dibawa ke sini,” ungkapnya.
GEJALA HILANG BUKAN BERARTI SEMBUH
Plt Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Kemenkes Surabaya, dr. Adhy Nugroho, MARS., juga mengingatkan masyarakat tidak menganggap kondisi sudah aman ketika gejala stroke tiba-tiba menghilang.
Gejala yang muncul kemudian mereda dapat menjadi tanda Transient Ischemic Attack (TIA) atau serangan iskemik sementara. Kondisi tersebut tetap membutuhkan pemeriksaan medis karena dapat menjadi peringatan adanya risiko stroke.
“Jangan menganggap kalau gejalanya hilang berarti sudah sembuh. Itu bukan berarti penyakitnya sudah sembuh. Karena itu deteksi dini stroke harus terus dilakukan,” ujar dr. Adhy.
RS Kemenkes Surabaya juga berupaya mempercepat penanganan pasien sejak tiba di unit gawat darurat. Pemeriksaan hingga pemberian obat ditargetkan berlangsung kurang dari 30 menit.
“Dalam waktu empat jam itu kita tangani. Pemeriksaan sampai obat kurang dari 30 menit. Jadi hasilnya bisa sangat ditekan dibandingkan pasien yang datang terlambat,” jelasnya.
Masyarakat diminta mengenali gejala utama stroke, seperti wajah mendadak tidak simetris, kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh, serta gangguan bicara yang muncul secara tiba-tiba.
Jika gejala tersebut muncul, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit dan tidak menunggu hingga keluhan membaik sendiri.
Untuk memperkuat pencegahan, RS Kemenkes Surabaya juga mendorong masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), terutama untuk memantau tekanan darah, gula darah, dan profil kolesterol.
Sementara bagi pasien yang sudah mengalami stroke, dr. Loco menekankan pentingnya evakuasi secepat mungkin agar dapat memperoleh tindakan medis, termasuk kateterisasi pada kasus yang membutuhkan intervensi.
“Evakuasi cepat itu idealnya secepat mungkin, detik itu kalau bisa dikateterisasi,” tuturnya.(bro)
- Dipublikasi Pada 7 September 2026
- Baru Saja di Update Pada September 7, 2026
- Temukan Kami di Google News

