Infosurabaya.com-Kenaikan harga solar industri di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur mulai memberatkan pelaku usaha jasa bongkar muat barang. Harga bahan bakar yang menjadi kebutuhan utama operasional alat berat itu dilaporkan melonjak hingga hampir dua kali lipat.
Saat ini harga solar industri yang sebelumnya berkisar Rp14.400 per liter, melonjak menjadi sekitar Rp27.000 per liter. Lonjakan harga tersebut diduga dipicu oleh ulah oknum agen penjualan yang berdalih adanya dampak konflik di Timur Tengah.
Padahal, dalam beberapa hari terakhir harga minyak dunia justru mengalami penurunan. Sebelumnya, harga minyak mentah sempat menyentuh 120 dolar Amerika Serikat per barel, kemudian turun menjadi 99 dolar, bahkan kini berada di kisaran 85 dolar per barel.
Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Jawa Timur, Kody Lamahayu, mengatakan kondisi tersebut terasa janggal karena kenaikan harga solar industri di dalam negeri tidak sejalan dengan pergerakan harga minyak dunia.
Menurutnya, sektor bongkar muat di pelabuhan sangat bergantung pada bahan bakar solar untuk mengoperasikan berbagai alat berat seperti excavator dan loader.
“Semua peralatan kami untuk bongkar muat kapal menggunakan BBM solar. Saat ini kami mendengar harga solar sudah mencapai Rp27 ribu per liter. Padahal harga minyak dunia justru turun hingga sekitar 85 dolar per barel,” kata Kody, Selasa.
Ia menilai, jika mengacu pada harga minyak dunia tersebut, harga solar industri seharusnya masih berada di kisaran belasan ribu rupiah per liter, bukan melonjak hingga hampir dua kali lipat.
Kondisi ini dinilai sangat memberatkan pelaku usaha logistik di kawasan pelabuhan. Pasalnya, biaya operasional meningkat tajam sementara tarif bongkar muat maupun ongkos angkutan barang tidak mengalami kenaikan.
Jika situasi ini terus berlanjut, pengusaha khawatir akan memicu kerugian besar dan mengganggu aktivitas distribusi barang di Pelabuhan Tanjung Perak yang merupakan salah satu pusat logistik utama di Indonesia.
APBMI Jawa Timur pun meminta pemerintah segera mengambil langkah tegas dengan mengawasi distribusi solar industry serta menertibkan praktik penjualan yang diduga dimainkan oleh oknum tertentu.
Selain itu, pengusaha juga berharap pemerintah dapat menahan kenaikan harga solar industri serta mempertimbangkan skema subsidi atau kebijakan khusus bagi sektor logistik pelabuhan.
Menurut Kody, sektor bongkar muat merupakan ujung tombak aktivitas distribusi barang nasional. Jika harga bahan bakar terus melonjak tanpa pengendalian, dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha di pelabuhan, tetapi juga dapat mempengaruhi rantai distribusi barang secara luas.
“Kami berharap pemerintah bisa menertibkan para pedagang solar agar tidak menjual dengan harga seenaknya. Kalau dibiarkan, tentu akan merugikan kami yang bekerja di ujung tombak pelabuhan,” ujarnya.(bro)
- Dipublikasi Pada 11 Maret 2026
- Baru Saja di Update Pada Maret 11, 2026
- Temukan Kami di Google News
