Dosen FK Ubaya Ungkap Faktor Penyebaran Hantavirus

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya atau FK Ubaya, dr. Risma Ikawaty, Ph.D.,(ist)

infosurabaya.com – Kasus Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah virus tersebut terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Di Indonesia, ancaman penyebaran virus ini juga mulai mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi dan tenaga kesehatan.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya atau FK Ubaya, dr. Risma Ikawaty, Ph.D., menjelaskan sejumlah faktor yang memengaruhi tingkat penyebaran berbagai varian Hantavirus.

Menurut dr. Risma, tidak semua varian Hantavirus dapat menular antar manusia. Hingga saat ini, penularan dari manusia ke manusia hanya ditemukan pada varian Andes. Hal itu terjadi karena virus Andes mampu bereplikasi di saluran pernapasan manusia sehingga memungkinkan terjadinya penularan sekunder.

Sementara itu, varian lain seperti Sin Nombre, Seoul, dan Hantaan masih terbatas menular dari hewan pengerat ke manusia.

“Faktor yang memengaruhi tingkat penyebarannya adalah spesies tikus pembawa virus atau reservoir,” jelas dr. Risma.

Ia mencontohkan, di Indonesia Hantavirus varian Seoul dibawa oleh tikus rumah spesies Rattus rattus dan Rattus norvegicus. Sedangkan varian Andes dibawa oleh tikus spesies Oligoryzomys longicaudatus.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terdapat 15 spesies tikus di Indonesia yang telah terkonfirmasi sebagai reservoir Hantavirus. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko penularan virus di masyarakat.

Selain faktor reservoir, kondisi lingkungan juga sangat memengaruhi penyebaran virus. Suhu, kelembapan udara, hingga tingginya populasi tikus di suatu wilayah dapat memperbesar peluang penularan.

Perubahan iklim dan urbanisasi turut menjadi faktor yang mempercepat perkembangan populasi tikus. Akibatnya, kontak antara manusia dan tikus menjadi semakin sering terjadi.

“Semakin banyak tikus dan semakin sering kontak dengan manusia, maka peluang penyebaran virus juga semakin besar,” ujar Wakil Dekan I FK Ubaya tersebut.

Meski demikian, Hantavirus dinilai masih bisa dicegah melalui pengendalian populasi tikus secara berkelanjutan, menjaga sanitasi lingkungan, serta mengurangi kontak langsung dengan hewan pengerat.

Dr. Risma juga menekankan pentingnya diagnosis cepat dan tepat di fasilitas pelayanan kesehatan agar kasus Hantavirus tidak salah diagnosis atau terlambat ditangani.

Masyarakat diminta waspada apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, sesak napas, mual, hingga gangguan ginjal setelah memiliki riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan yang berisiko tinggi.

Sebagai informasi, Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang menular dari tikus ke manusia. Penularan dapat terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi kotoran, urin, maupun air liur tikus yang membawa virus. Partikel yang mengering kemudian beterbangan di udara dan terhirup manusia.

Karena itu, seseorang tidak harus digigit tikus untuk bisa terinfeksi Hantavirus. Paparan lingkungan yang terkontaminasi juga dapat menjadi media penularan virus berbahaya tersebut.(bro)

  • Dipublikasi Pada 12 Mei 2026
  • Baru Saja di Update Pada Mei 12, 2026
  • Temukan Kami di Google News
Follow WhatsApp Channel Infosurabaya
Follow

Trust Verified On Google
Jadikan Infosurabaya sebagai sumber berita tepercaya Anda di Google.
Add as a preferred source on Google
Disclaimer
Konten Dosen FK Ubaya Ungkap Faktor Penyebaran Hantavirus disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Powered By Infosurabaya