Hebat, Dokter di Usia 22 Tahun, Lulusan Unusa

dr. Syifa’ani Maulidah Zakiyah Rosyid, yang berhasil meraih gelar dokter pada usia 22 tahun setelah memulai kuliah di Fakultas Kedokteran saat usianya baru 15 tahun.(ist)

infosurabaya.com-Usia 22 tahun umumnya masih menjadi fase awal memasuki dunia kerja. Namun, bagi dr. Syifa’ani Maulidah Zakiyah Rosyid, usia tersebut justru menjadi momentum meraih gelar dokter. Ia resmi dilantik sebagai dokter baru Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (13/8/2026).

Yang membuat kisah Fani, sapaan Syifa’ani, menarik adalah perjalanan pendidikannya. Ia mulai kuliah di Fakultas Kedokteran Unusa saat berusia 15 tahun, setelah menyelesaikan pendidikan SMP dan SMA melalui program akselerasi di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto.

Fani lahir di Malang pada 12 Mei 2004. Sejak usia sekolah, ia menjalani pendidikan dengan ritme belajar yang lebih cepat dibandingkan kebanyakan pelajar seusianya. Program akselerasi membuatnya dapat menyelesaikan pendidikan menengah lebih awal hingga akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Unusa pada usia 15 tahun.

“Ketika pertama kali masuk kuliah, banyak teman yang kaget karena saya masih sangat muda. Mereka sering memanggil saya ‘Bucil’. Awalnya memang dianggap seperti adik kecil, tetapi seiring waktu teman-teman justru banyak membantu dan mendukung saya,” ujar Fani.

Tumbuh di Lingkungan Rumah Sakit

Keputusan Fani memilih kedokteran juga tidak lepas dari lingkungan keluarganya. Ia merupakan putri sulung dari empat bersaudara dan tumbuh dekat dengan dunia kesehatan.

Ayahnya, dr. Sulaiman Rosyid, M.MKes, merupakan seorang dokter yang kini menjabat Direktur RSUD Wahidin Sudiro Husodo, Mojokerto. Sejak kecil, Fani kerap diajak ke rumah sakit dan melihat langsung aktivitas dokter dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Pengalaman tersebut secara perlahan menumbuhkan keinginannya untuk mengikuti jejak sang ayah dan menjadi dokter.

Menariknya, dua adik Fani saat ini juga menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran di kampus berbeda. Sementara satu adiknya yang masih duduk di bangku SMA disebut berpotensi mengikuti jejak kakak-kakaknya.

“Papi sih berharap anak-anaknya bisa di kedokteran semua. Soal kampusnya terserah di mana saja,” kata Fani.

Meski menjadi mahasiswa termuda di lingkungan pendidikannya, Fani mengaku tidak mengalami kendala berarti ketika harus beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit selama menjalani pendidikan profesi.

Kebiasaan berada di rumah sakit sejak kecil membuat suasana pelayanan kesehatan sudah terasa familiar baginya. Ia juga terbiasa berinteraksi dengan lingkungan medis sebelum memasuki pendidikan kedokteran.

Pendidikan Pesantren Jadi Bekal

Selain dukungan keluarga, Fani menilai pendidikan di pondok pesantren turut membentuk karakter dan kedisiplinannya selama menempuh pendidikan kedokteran.

Rutinitas belajar sejak pagi hingga sore, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan mengaji pada malam hari, membuatnya terbiasa menjalani aktivitas secara teratur. Kebiasaan tersebut menjadi bekal ketika menghadapi jadwal kuliah dan pendidikan profesi dokter yang padat.

Menurut Fani, kemampuan mengatur waktu menjadi salah satu hal penting untuk menyelesaikan pendidikan kedokteran di usia relatif muda.

Kini setelah resmi menyandang gelar dokter, Fani belum ingin berhenti belajar. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang dokter spesialis.

Bidang bedah dan spesialis mata menjadi dua pilihan yang paling menarik perhatiannya. Kedua bidang tersebut dinilai menawarkan tantangan sekaligus kesempatan untuk terus mengembangkan kemampuan di dunia medis.

Unusa Dorong Dokter Berkarakter

Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono mengatakan kisah Fani menjadi bukti bahwa usia bukan faktor utama dalam menentukan keberhasilan seseorang dalam pendidikan kedokteran.

Menurutnya, keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh kedisiplinan, ketekunan, kemauan belajar, serta dukungan lingkungan.

Kisah Fani juga sejalan dengan komitmen Unusa untuk mencetak dokter yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan klinis, tetapi juga berkarakter, memiliki empati, serta mampu mengabdikan diri kepada masyarakat.

Pelantikan dan pengambilan sumpah dokter Unusa pada Kamis (13/8/2026) menjadi momentum bagi para dokter baru untuk memulai perjalanan pengabdian di dunia kesehatan.

Bagi Fani, perjalanan menjadi dokter di usia 22 tahun bukan sekadar pencapaian akademik. Kisahnya menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk meraih cita-cita, selama dibarengi disiplin, kerja keras, dukungan keluarga, dan kemauan untuk terus belajar.(bro)

  • Dipublikasi Pada 13 Agustus 2026
  • Baru Saja di Update Pada Agustus 13, 2026
  • Temukan Kami di Google News
Follow WhatsApp Channel Infosurabaya
Follow

Trust Verified On Google
Jadikan Infosurabaya sebagai sumber berita tepercaya Anda di Google.
Add as a preferred source on Google
Disclaimer
Konten Hebat, Dokter di Usia 22 Tahun, Lulusan Unusa disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Powered By Infosurabaya