infosurabaya.com-Merespons tingginya keterlambatan deteksi dini, Universitas Ciputra Surabaya meluncurkan program konsultasi kesehatan interaktif bertajuk “Halo UC Dok”. Program ini, terbuka untuk masyarakat umum dan disiarkan langsung melalui akun TikTok resmi universitas.
Dalam format siaran langsung selama satu jam, pukul 15.30–16.30 WIB, masyarakat dapat bertanya langsung tentang masalah kesehatan kepada dokter secara real-time tanpa dipungut biaya alias gratis.
Program “Halo UC Dok” digelar rutin setiap minggu dengan jadwal:
Rabu: Konsultasi kesehatan gigi dan mulut
Kamis: Konsultasi kesehatan umum
Michael Hery Tera, Vice Rector for Operations, Technology, and Resources Universitas Ciputra, menyatakan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam meningkatkan literasi kesehatan publik.
“Halo UC Dok adalah wujud komitmen Universitas Ciputra dalam memperluas literasi kesehatan masyarakat Indonesia. Kami ingin berperan aktif bukan hanya dalam pendidikan formal, tetapi juga dalam memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan publik melalui akses konsultasi yang mudah dan terpercaya,” terangnya.
Edisi perdana Program “Halo UC Dok” menmpilkan konsultasi gigi menghadirkan dua dokter spesialis penyakit mulut untuk membahas tanda bahaya luka di rongga mulut yang sering diabaikan masyarakat.
Seperti yang diketahui, luka di mulut yang tak kunjung sembuh kerap dianggap sebagai sariawan biasa. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi tanda awal kanker rongga mulut yang sering terlambat terdiagnosis di Indonesia.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), kanker bibir dan rongga mulut masih termasuk dalam daftar kasus kanker yang ditemukan di Indonesia. Sejumlah studi klinis juga menunjukkan banyak pasien baru memeriksakan diri ketika kondisi telah memasuki stadium lanjut. Salah satu penyebabnya, gejala awal kerap dianggap sepele dan tidak menimbulkan rasa nyeri.
Gejala Awal Sering Diabaikan
Pada tahap awal, kanker rongga mulut dapat muncul dalam bentuk luka yang tidak sembuh lebih dari dua minggu, perubahan warna jaringan, munculnya benjolan, atau tekstur jaringan yang terasa lebih keras dari biasanya.
drg. Karlina Puspasari, dokter spesialis penyakit mulut, menjelaskan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap luka yang tidak kunjung membaik.
“Sariawan normal biasanya sembuh dalam 7–14 hari. Jika lebih dari dua minggu tidak membaik, apalagi disertai perubahan warna atau jaringan terasa keras, itu perlu diperiksakan,” jelasnya.
Sementara itu, drg. Nurfitri Amaliah menambahkan bahwa keterlambatan pemeriksaan sering terjadi karena pasien tidak merasakan nyeri pada tahap awal.
“Kanker rongga mulut pada stadium awal sering tidak terasa sakit. Justru karena tidak nyeri, orang menunda pemeriksaan. Edukasi seperti ini penting agar masyarakat lebih peka terhadap perubahan di tubuhnya sendiri,” ujarnya.
Dorong Budaya Deteksi Dini
Program ini diharapkan menjadi jembatan antara tenaga medis dan masyarakat, sekaligus mendorong budaya deteksi dini sebagai bagian dari gaya hidup sehat di era digital. Dengan kemudahan akses melalui media sosial, masyarakat diharapkan tidak lagi menunda konsultasi ketika menemukan gejala yang mencurigakan.
Deteksi dini menjadi kunci utama dalam meningkatkan peluang kesembuhan kanker rongga mulut. Semakin cepat terdiagnosis, semakin besar kemungkinan penanganan yang efektif dan kualitas hidup pasien yang lebih baik.(bro)
- Dipublikasi Pada 4 Maret 2026
- Baru Saja di Update Pada Maret 4, 2026
- Temukan Kami di Google News
