infosurabaya.com-Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan teknologi mitigasi gempa untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan bencana. Teknologi tersebut berupa sensor pendeteksi gempa berbasis mikrokontroler dan prototipe bangunan tahan gempa.
Uji coba kedua inovasi dilakukan di Ponorogo, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026). Pengembangan teknologi melibatkan Departemen Teknik Elektro Otomasi dan Departemen Teknik Sipil ITS bersama mitra Rabasa Beton, Ponorogo.
Wakil Kepala Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS, Dr Ir Berlian Al Kindhi SST MT, mengatakan inovasi tersebut merupakan kontribusi ITS dalam menghadapi tingginya risiko bencana gempa bumi di Indonesia.
Sensor pendeteksi gempa yang dikembangkan menggunakan mikrokontroler untuk membaca getaran tanah secara real-time. Ketika sensor mendeteksi getaran yang melewati ambang batas tertentu, sistem secara otomatis mengirimkan notifikasi dan mengaktifkan alarm peringatan.
Informasi mengenai geolokasi dan data historis getaran juga dapat ditampilkan melalui situs pemantauan insamo.id. Data tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk memetakan potensi bencana di lingkungan sekitar.
Menurut Berlian, sistem yang dikembangkan tidak hanya diarahkan untuk mendeteksi gempa. Sensor dan aplikasi pemantauan juga dapat dikembangkan untuk memantau ketinggian air sebagai bagian dari mitigasi banjir dan tanah longsor.
Salah satu keunggulan sensor tersebut adalah biaya produksinya yang lebih rendah dibandingkan perangkat sejenis di pasaran. Dengan biaya yang lebih terjangkau, sensor diharapkan dapat dipasang di rumah-rumah masyarakat sehingga peringatan dini gempa dapat diterima langsung oleh penghuni.
Selain sensor gempa, tim Departemen Teknik Sipil ITS yang dipimpin Ahmad Basshofi Habieb ST MT PhD mengembangkan prototipe bangunan tahan gempa.
Prototipe tersebut dibuat dua lantai dengan konsep yang menyesuaikan karakter bangunan hunian masyarakat. Bangunan ditempatkan di atas base isolator, yang berfungsi memisahkan gerakan tanah dari struktur bangunan.
Teknologi base isolator membuat pergerakan struktur bangunan menjadi lebih terkontrol ketika menerima guncangan gempa. Prototipe juga menggunakan dinding hebel yang lebih tebal serta struktur bagian atas tanpa rangka beton bertulang untuk meningkatkan efisiensi biaya.
Basshofi mengatakan, pengembangan bangunan tahan gempa penting karena lingkungan hunian menjadi salah satu bagian yang berisiko terdampak ketika gempa terjadi.
Ia berharap penelitian tersebut dapat dikembangkan bersama lembaga lain dan segera diterapkan di masyarakat. Salah satu wilayah yang dinilai membutuhkan penguatan mitigasi adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), yang baru-baru ini terdampak gempa.
Menurutnya, penerapan teknologi deteksi gempa dan bangunan tahan gempa diharapkan dapat mengurangi risiko korban jiwa serta kerusakan bangunan akibat gempa yang berulang terjadi di Indonesia.
Pengembangan kedua teknologi tersebut juga menjadi bagian dari upaya ITS mendukung pembangunan masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana. Inovasi ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-9 mengenai industri, inovasi dan infrastruktur serta tujuan ke-11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan.(bro)
- Dipublikasi Pada 22 Agustus 2026
- Baru Saja di Update Pada Agustus 22, 2026
- Temukan Kami di Google News
