infosurabaya.com-Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya atau I-STTS mengukuhkan tiga guru besar dari bidang kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), Sabtu, 22 Agustus 2026. Ketiganya adalah Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom., Prof. Dr. Ir. Gunawan, M.Kom., dan Prof. Dr. Ir. Hj. Endang Setyati, M.T.
Pengukuhan tiga guru besar ini menjadi momentum bagi I-STTS untuk memperkuat pengembangan riset AI yang tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Prof. Gunawan mengatakan, jabatan guru besar merupakan puncak jenjang akademik seorang dosen. Karena itu, pencapaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi individu, tetapi juga menunjukkan perkembangan ekosistem akademik di perguruan tinggi.
Menurut Gunawan, perjalanan menuju jabatan guru besar bukan proses yang mudah. Ia telah mendalami bidang AI sejak 1992. Dalam sekitar 15 tahun terakhir, persaingan dan tuntutan untuk mencapai jenjang guru besar juga semakin tinggi.
Keberadaan guru besar, lanjutnya, menjadi salah satu indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam membangun lingkungan akademik yang mendorong dosen melakukan penelitian, mengembangkan keilmuan, serta menghasilkan karya yang bermanfaat.
Sementara itu, Prof. Endang Setyati menegaskan, pencapaian sebagai guru besar tidak diperoleh secara individual. Berbagai penelitian dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan selama perjalanan akademik melibatkan dukungan mahasiswa, sesama dosen dan berbagai pihak lainnya.
Endang yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi S2 I-STTS mengatakan, hasil penelitian tidak semestinya berhenti di lingkungan kampus. Publikasi ilmiah harus dapat menjadi rujukan bagi penelitian berikutnya sekaligus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Salah satu bentuk pengabdian yang dilakukan menyasar anak-anak mulai jenjang SD, SMP, SMA hingga mahasiswa. Program tersebut antara lain membantu anak memahami bacaan, menangkap makna dari teks, serta mendorong mereka memiliki cita-cita.
Riset AI yang dikembangkan Endang juga diarahkan untuk membantu kelompok yang membutuhkan. Salah satunya berupa sistem komunikasi berbasis gerak bibir yang memungkinkan komputer membaca gerakan bibir.
Teknologi tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi solusi yang membantu masyarakat dengan kebutuhan komunikasi tertentu.
Endang menilai, menjadi guru besar bukanlah akhir perjalanan akademik. Justru, jabatan tersebut menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Ia juga menyambut dibukanya Program Studi S3 di I-STTS pada Agustus 2026. Kehadiran program doktoral dinilai penting untuk meningkatkan jumlah sumber daya manusia Indonesia yang memiliki kompetensi dan kualifikasi akademik tinggi.
Menurut Endang, guru besar memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi lebih luas kepada mahasiswa, baik jenjang S1, S2 maupun S3.
Di sisi lain, Prof. Esther Irawati Setiawan menegaskan, pengembangan AI di I-STTS bukan hal baru. Menurutnya, riset AI telah dikembangkan di lingkungan kampus sejak 1992 dan terus dilakukan secara berkelanjutan.
Esther mengatakan, pengembangan AI dilakukan bersama sejumlah akademisi dengan bidang kepakaran yang berbeda. Hasil penelitian kemudian diarahkan agar tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Esther, Endang dan Gunawan telah lebih dari satu dekade mengembangkan riset AI dengan bidang keahlian masing-masing. Kolaborasi ketiganya menjadi salah satu kekuatan I-STTS dalam mengembangkan penelitian dan pendidikan berbasis teknologi.
Saat ini, Esther juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Sistem Informasi Bisnis I-STTS. Endang berperan dalam pengembangan pendidikan pascasarjana, sedangkan Gunawan memiliki kiprah panjang dalam pengembangan institusi dan riset AI sejak 1992.
Pengukuhan tiga guru besar tersebut sekaligus menegaskan arah pengembangan I-STTS, yakni memperkuat pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat melalui teknologi AI.
Ketiganya memiliki kepakaran yang berbeda, tetapi membawa visi yang sama, yaitu memastikan perkembangan kecerdasan artifisial tidak hanya menghasilkan kemajuan akademik, melainkan juga memberikan dampak dan manfaat nyata bagi masyarakat.(bro)
- Dipublikasi Pada 22 Agustus 2026
- Baru Saja di Update Pada Agustus 22, 2026
- Temukan Kami di Google News
