Tren Fashion Lawas Kembali Populer, Dosen Ubaya Ungkap Teori Siklus

Ketua Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), Hany Mustikasari, M.Ds. (ist)

infosurabaya.com-Tren fashion dari masa lalu kembali bermunculan dan populer di kalangan masyarakat. Mulai motif polkadot, gaya Y2K, sepatu balet, atasan renda klasik, rok balon, hingga pakaian berlapis kembali menghiasi tren busana belakangan ini.

Fenomena tersebut dinilai bukan sekadar kebetulan. Ketua Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), Hany Mustikasari, M.Ds., menjelaskan kembalinya tren fashion lawas dapat dipahami melalui fashion cycle theory atau teori siklus fashion.

Menurut Hany, setiap tren fashion memiliki siklus yang dimulai dari kemunculan, diperkenalkan kepada masyarakat, mencapai puncak popularitas, kemudian mengalami penurunan hingga akhirnya dilupakan.

“Di dalam dunia fashion, kami mengenal teori siklus fashion yang menjelaskan bagaimana setiap tren memiliki fase tersendiri. Tahapannya dimulai dari kemunculan, dikenalkan kepada masyarakat, populer di puncak, mulai surut, hingga tren tersebut dilupakan oleh masyarakat,” jelas Hany.

Ia mengatakan, lama setiap tren berada dalam satu siklus berbeda-beda. Namun, dalam siklus normal, sebuah tren dapat kembali populer sekitar 15 hingga 30 tahun setelah sebelumnya mengalami masa kejayaan.

Kembalinya tren lawas juga tidak terlepas dari faktor nostalgia. Generasi yang pernah mengalami masa populer sebuah tren memiliki kerinduan untuk kembali mengenakannya. Sementara itu, generasi yang lebih muda terdorong rasa penasaran karena tidak mengalami tren tersebut pada zamannya.

“Kembalinya sebuah tren biasanya dipicu oleh rasa rindu atau nostalgia dari orang-orang yang sempat merasakan titik populernya sebuah tren fashion tertentu di masa lalu. Di waktu yang bersamaan, generasi yang lebih muda memiliki rasa penasaran karena tidak sempat mengalami tren tersebut,” ungkapnya.

Menurut Hany, kondisi tersebut kemudian dibaca oleh industri fashion sebagai peluang pasar. Produsen dapat kembali menghadirkan produk dengan karakter tren lama, tetapi melalui berbagai penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini.

Selain menjadi peluang bisnis, tren fashion lawas juga dapat dimanfaatkan untuk mendorong praktik fashion berkelanjutan. Salah satunya melalui konsep refashioned, yakni memodifikasi kembali produk fashion lama agar dapat digunakan dan diterima di masa sekarang.

“Terdapat istilah yang disebut refashioned yang terjadi ketika sebuah produk fashion dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat diterima oleh masyarakat. Salah satu praktiknya adalah penggunaan kembali produk fashion dari masa lalu dengan beberapa penyesuaian atau penambahan aksesori,” terangnya.

Menurutnya, penggunaan kembali pakaian lama dapat memperpanjang usia pakai produk sekaligus membantu mengurangi limbah fashion.

Hany menyebut terdapat sejumlah kondisi agar tren fashion lawas dapat kembali diterima. Pertama, desainnya harus memenuhi standar estetika masyarakat masa kini. Kedua, model, warna, dan bahan perlu disesuaikan dengan preferensi konsumen. Ketiga, material maupun proses produksinya dapat menggunakan teknologi yang berkembang saat ini.

Penyesuaian juga diperlukan dari sisi kepraktisan. Beberapa pakaian dari masa lalu memiliki cara penggunaan maupun perawatan yang relatif kompleks sehingga perlu dimodifikasi agar sesuai dengan gaya hidup masyarakat modern yang mengutamakan kemudahan.

“Terakhir, karena beberapa tren masa lalu aslinya memiliki prosedur penggunaan dan perawatan yang cukup kompleks, harus dilakukan modifikasi agar dapat memenuhi gaya hidup manusia yang cenderung lebih praktis,” ujar Hany.

Fenomena siklus fashion tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pendidikan fashion untuk menghadapi perkembangan industri yang dinamis. Pelaku industri tidak hanya dituntut mampu menciptakan desain menarik, tetapi juga harus mampu membaca tren, memahami kebutuhan pasar, serta mengembangkan material dan metode produksi yang lebih ramah lingkungan.

Hany menegaskan, kemampuan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang diberikan Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Ubaya.

“Berbagai ilmu dan kemampuan tersebut dihadirkan oleh Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Ubaya bagi para mahasiswa. Tidak hanya terampil dalam mendesain, lulusan kami juga harus memiliki seperangkat keahlian lainnya sekaligus kepedulian yang tinggi terhadap keberlanjutan dunia melalui karya fashion,” tandas Hany.(bro)

  • Dipublikasi Pada 5 September 2026
  • Baru Saja di Update Pada September 5, 2026
  • Temukan Kami di Google News
Follow WhatsApp Channel Infosurabaya
Follow

Trust Verified On Google
Jadikan Infosurabaya sebagai sumber berita tepercaya Anda di Google.
Add as a preferred source on Google
Disclaimer
Konten Tren Fashion Lawas Kembali Populer, Dosen Ubaya Ungkap Teori Siklus disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Powered By Infosurabaya