infosurabaya.com-Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mulai menyiapkan redesain kurikulum sebagai respons terhadap pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transformasi digital, dan perubahan kebutuhan dunia kerja. Melalui pembaruan tersebut, Unusa menargetkan lahirnya lulusan yang adaptif, berdaya saing, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat (true learner) menuju Indonesia Emas 2045.
Komitmen itu disampaikan dalam Sarasehan Redesain Kurikulum Unusa bertema “Kurikulum Berdampak Berbasis Outcome Based Education (OBE) untuk Lulusan Unggul dan Berdaya Saing” yang digelar di Surabaya, Selasa (4/8/2026). Forum tersebut menghadirkan Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSIS) Prof. Mohammad Nuh, Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono, dan Staf Ahli Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Hermawan Kresno Dipojono.
Staf Ahli Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Hermawan Kresno Dipojono, mengatakan perguruan tinggi harus bergerak cepat menyesuaikan kurikulum karena AI dan otomatisasi diperkirakan akan menggantikan banyak pekerjaan yang bersifat rutin.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu mencetak lulusan yang robot-proof, yakni memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, memimpin, berempati, serta menyelesaikan persoalan nyata yang tidak dapat digantikan teknologi.
“Robot dan AI akan mengambil alih pekerjaan yang bersifat rutin. Karena itu, perguruan tinggi harus mempersiapkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berinovasi, berempati, serta mampu menyelesaikan persoalan nyata. Kompetensi seperti inilah yang sulit digantikan oleh teknologi,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Hermawan juga memperkenalkan konsep Digital Khalifah 2050, yaitu paradigma pembangunan sumber daya manusia yang menggabungkan kecakapan digital dengan nilai moral, spiritual, dan kepemimpinan. Menurutnya, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu mengarahkan pemanfaatannya demi kemaslahatan masyarakat.
Sementara itu, Ketua YARSIS Prof. Mohammad Nuh menegaskan perubahan kurikulum tidak boleh hanya berorientasi pada kebutuhan industri. Perguruan tinggi, menurutnya, tetap harus memiliki misi melahirkan manusia yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, arah pengembangan Unusa sebagai Islamic Sustainable Digital University menjadikan keberlanjutan, nilai-nilai keislaman, dan dampak sosial sebagai fondasi proses pendidikan. Karena itu, mahasiswa didorong menjadi true learner, yakni pribadi yang terus belajar dan mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi.
Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono mengatakan filosofi tersebut diwujudkan melalui redesain kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE). Pendekatan ini menempatkan capaian pembelajaran lulusan sebagai titik awal penyusunan kurikulum sehingga selaras dengan kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dunia industri, perkembangan teknologi, serta misi pengabdian Unusa.
“Kurikulum tidak lagi hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi dirancang berdasarkan kompetensi lulusan yang dibutuhkan di masa depan,” ujarnya.
Menurut Prof. Tri, kurikulum baru juga akan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih fleksibel, kolaboratif, dan berbasis penyelesaian masalah nyata. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki literasi digital, jiwa kepemimpinan, kepekaan sosial, serta kemampuan belajar sepanjang hayat.
Melalui sarasehan ini, Unusa menegaskan langkah strategisnya dalam menyusun kurikulum yang mengintegrasikan perkembangan ilmu pengetahuan, transformasi digital, kebutuhan dunia kerja, serta nilai-nilai kemanusiaan. Kurikulum baru tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga menjadi inovator, pemimpin perubahan, dan agen kemaslahatan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.(bro)
- Dipublikasi Pada 5 Agustus 2026
- Baru Saja di Update Pada Agustus 5, 2026
- Temukan Kami di Google News
