infosurabaya.com-Perjalanan menuju Tanah Suci tak selalu mudah. Bagi Alwan Abdul Aziz, seorang penjual air galon keliling, ibadah haji adalah buah dari kesabaran panjang selama lebih dari satu dekade.
Di usianya yang ke-55 tahun, Alwan akhirnya mendapat panggilan untuk menunaikan rukun Islam kelima. Perasaan syukur tak henti ia ucapkan setelah penantian panjang selama 14 tahun.
“Saya bersyukur sekali. Sudah menunggu lama, sejak 2001 saya mulai menabung,” tuturnya dengan mata berbinar.
Perjalanan finansialnya bukanlah hal yang mudah. Dengan penghasilan sederhana dari berjualan air galon keliling, Alwan harus menyisihkan sedikit demi sedikit uangnya. Dalam sehari, ia hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp500 per galon. Jika beruntung menjual 80 galon, ia membawa pulang sekitar Rp40 ribu.
Penghasilannya per bulan pun tak menentu, berkisar Rp2 juta. Dari jumlah itu, ia tetap berusaha menabung, meski hanya Rp200 ribu hingga Rp400 ribu saat ada sisa.
Tabungan itu tidak langsung disetorkan ke bank. Ia mengumpulkannya sedikit demi sedikit, hingga akhirnya cukup untuk mendaftar haji pada 2012.
“Kalau ada sisa, saya simpan. Nanti kalau sudah terkumpul baru saya setorkan,” ujarnya.
Namun perjalanan hidup Alwan tak selalu berjalan mulus. Sebelum menjadi penjual air galon, ia pernah bekerja sebagai penjahit dan mencoba membuka usaha sendiri di kawasan Pasar Turi Surabaya.
Musibah datang saat kebakaran besar melanda pasar tersebut pada 2007. Usahanya hancur, bahkan uangnya tak kembali.
“Waktu itu hancur semua. Uang saya tidak dibayar, orang-orang juga banyak yang lari,” kenangnya.
Dari titik itulah, Alwan memulai kembali hidupnya dari nol hingga akhirnya berjualan air galon sejak 2014.
Di balik perjuangannya, terselip kisah haru lainnya. Alwan awalnya mendaftar haji bersama sang istri. Namun takdir berkata lain, sang istri lebih dulu meninggal dunia dua tahun lalu.
Kini, ia harus berangkat sendiri tanpa pendamping.

“Sebenarnya dulu daftar berdua. Tapi istri saya sudah dipanggil duluan,” ucapnya lirih.
Meski begitu, niatnya tak berubah. Ia tetap mantap berangkat, meski persiapan terasa singkat setelah kepastian keberangkatan datang hanya dalam waktu dua bulan.
Di Tanah Suci nanti, Alwan tak memiliki permintaan muluk. Ia hanya ingin fokus beribadah dan memanjatkan doa sederhana.
“Saya hanya minta kesehatan, rezeki yang barokah, supaya bisa terus beribadah,” katanya.
Setiap hari, ia mengaku rutin membaca istighfar dan sholawat sebagai amalan sederhana yang ia pegang teguh.
Untuk sang istri tercinta, doa pun tak pernah putus ia kirimkan. Ia berharap amal ibadah sang istri diterima dan mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.
Kisah Alwan menjadi potret nyata bahwa ibadah haji bukan hanya tentang kemampuan finansial, tetapi juga tentang ketekunan, kesabaran, dan keyakinan.
Dari jalanan dengan galon air di pundak, kini ia melangkah menuju Baitullah, membawa harapan dan doa yang telah ia kumpulkan selama belasan tahun.(bro)
- Dipublikasi Pada 4 Mei 2026
- Baru Saja di Update Pada Mei 4, 2026
- Temukan Kami di Google News
