BPOM dan Ubaya Perkuat Hilirisasi Riset, Siapkan Unit Uji Klinis di Jatim

BPOM RI dan Universitas Surabaya (Ubaya) memperkuat kolaborasi untuk mendorong hilirisasi hasil riset menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.(ist)

infosurabaya.com-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dan Universitas Surabaya (Ubaya) memperkuat kolaborasi untuk mendorong hilirisasi hasil riset menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. dan Rektor Ubaya Dr. Benny Lianto di Kampus Ubaya Tenggilis, Surabaya, Senin (15/6/2026).

Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi, khususnya di bidang obat, pangan, suplemen kesehatan, kosmetik, dan obat bahan alam. Selain itu, kerja sama tersebut membuka peluang pembentukan unit uji klinis di Jawa Timur yang selama ini masih menjadi kebutuhan industri farmasi di daerah.

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menegaskan bahwa percepatan hilirisasi riset membutuhkan sinergi kuat antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah melalui konsep Academic, Business, and Government (ABG).

Menurutnya, banyak hasil penelitian di perguruan tinggi yang memiliki potensi besar untuk menjawab kebutuhan masyarakat, terutama di sektor kesehatan. Namun, inovasi tersebut perlu didorong agar dapat lebih cepat masuk ke pasar dengan tetap memenuhi aspek keamanan, mutu, dan khasiat.

“Melalui konsep ABG, kami yakin transfer teknologi dan pengembangan produk-produk inovatif bisa dipercepat sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” ujar Taruna.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar untuk mendukung pengembangan industri farmasi nasional. Tercatat sekitar 31 ribu jenis tanaman berpotensi menjadi sumber bahan baku obat berbasis riset.

Taruna menyebut saat ini hanya sekitar enam persen bahan baku obat yang diproduksi di dalam negeri. Padahal Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia yang memiliki kebutuhan obat sangat besar.

“Kita memiliki kekayaan biodiversitas terbesar kedua di dunia. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat kemandirian industri farmasi melalui riset dan hilirisasi,” katanya.

Untuk mempercepat proses tersebut, BPOM juga tengah menyiapkan sejumlah terobosan regulasi. Salah satunya melalui skema conditional approval atau persetujuan bersyarat bagi produk-produk inovatif yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Melalui skema itu, produk yang telah memenuhi aspek keamanan dan menunjukkan efektivitas pada tahap tertentu dapat memperoleh akses lebih cepat ke masyarakat, sambil tetap menjalani pengumpulan data klinis lanjutan.

Selain itu, BPOM juga telah memangkas waktu evaluasi perizinan produk dari sekitar 300 hari kerja menjadi 210 hari kerja guna mempercepat hadirnya inovasi ke pasar.

Sementara itu, Rektor Ubaya Benny Lianto mengatakan kerja sama dengan BPOM menjadi bagian dari upaya kampus untuk mewujudkan visi sebagai entrepreneur university yang menghasilkan riset berdampak bagi masyarakat dan industri.

Menurut Benny, riset perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah semata, melainkan harus mampu menghasilkan produk yang dapat diadopsi industri dan memberikan manfaat nyata.

“Riset harus diarahkan pada hilirisasi, menjadi produk nyata yang diadopsi industri, mampu memasuki pasar, dan membawa manfaat bagi kesehatan serta kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Benny juga menyoroti kebutuhan Jawa Timur terhadap fasilitas uji klinis. Selama ini, industri farmasi di wilayah tersebut masih harus melakukan pengujian obat baru ke Jawa Barat atau Jakarta karena belum tersedia fasilitas yang memadai di daerah.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Ubaya telah menginisiasi pengembangan unit uji klinis yang diharapkan dapat menjadi bagian penting dari ekosistem industri farmasi Jawa Timur.

“Ubaya sebenarnya sudah mulai mengembangkan unit baru untuk pengujian klinis obat. Dengan begitu, industri farmasi di Jawa Timur tidak perlu lagi melakukan pengujian ke Jawa Barat atau Jakarta,” ujarnya.

Menurut Benny, pembentukan unit uji klinis tersebut juga mendapat perhatian dari BPOM. Bahkan, Taruna Ikrar dijadwalkan mengunjungi Benova, salah satu industri farmasi besar di Jawa Timur yang menjadi mitra Ubaya, untuk membahas peluang pengembangan fasilitas tersebut.

Ia berharap sinergi antara BPOM, perguruan tinggi, dan industri dapat mempercepat lahirnya inovasi kesehatan nasional yang berbasis riset sekaligus memperkuat daya saing industri farmasi Indonesia.

Saat ini, kata Taruna, terdapat sekitar 1.700 produk hasil riset yang tengah berada dalam berbagai tahap pengembangan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 134 produk telah menunjukkan kemajuan signifikan, termasuk terapi kanker, penyakit kritis, dan sejumlah penyakit langka.

“Yang terpenting adalah bagaimana hasil riset tersebut bisa sampai kepada masyarakat dengan tetap menjamin keamanan, khasiat, dan mutunya,” pungkas Taruna.(bro)

  • Dipublikasi Pada 16 Juni 2026
  • Baru Saja di Update Pada Juni 16, 2026
  • Temukan Kami di Google News

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).


Follow WhatsApp Channel Infosurabaya.com
Follow