Jatim Darurat HIV! Usia Produktif Terancam Tumbang

Ilustrasi peningkatan kasus HIV di Jawa Timur yang didominasi kelompok usia produktif,

Infosurabaya.com – Ancaman HIV/AIDS di Jawa Timur kini memasuki fase yang mengkhawatirkan. Penyakit yang kerap disebut sebagai “epidemi senyap” itu terus menyebar tanpa banyak disadari masyarakat dan justru menyerang kelompok usia produktif yang menjadi penggerak utama perekonomian daerah.

Data Kementerian Kesehatan menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Indonesia. Bersama DKI Jakarta dan Jawa Barat, Jawa Timur menjadi penyumbang terbesar kasus HIV nasional. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius karena mayoritas penderita berada pada rentang usia 25 hingga 49 tahun, usia emas yang seharusnya menjadi kekuatan pembangunan dan bonus demografi bangsa.

Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Budi Setiyono, mengingatkan bahwa HIV kini bukan lagi masalah kelompok tertentu. Penyakit ini telah berubah menjadi ancaman kesehatan publik yang dapat menggerus kualitas sumber daya manusia Indonesia jika tidak segera dikendalikan.

“HIV berkembang sebagai epidemi senyap. Banyak orang tampak sehat, tetap bekerja, dan beraktivitas seperti biasa, namun tidak menyadari telah terinfeksi selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Secara nasional, hingga 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564 ribu orang hidup dengan HIV. Namun, hanya sekitar 63 persen yang mengetahui status kesehatannya. Lebih memprihatinkan lagi, tidak seluruhnya menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin, sehingga potensi penularan masih terus berlangsung.

Banyak penderita baru mengetahui dirinya terinfeksi saat kondisi tubuh sudah mengalami penurunan drastis akibat komplikasi berat seperti tuberkulosis, pneumonia, atau infeksi serius lainnya. Pada tahap tersebut, pengobatan menjadi lebih kompleks dan biaya kesehatan meningkat tajam.

Di sisi lain, stigma sosial masih menjadi musuh besar dalam penanganan HIV. Tidak sedikit masyarakat yang enggan melakukan tes karena takut dicap negatif, dikucilkan lingkungan, atau mengalami diskriminasi di tempat kerja.

Tingginya mobilitas penduduk, arus urbanisasi, serta aktivitas ekonomi yang terus berkembang di Jawa Timur turut memperbesar risiko penyebaran. Perubahan pola pergaulan dan interaksi sosial yang semakin terbuka juga menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan.

Budi Setiyono menegaskan bahwa penanggulangan HIV harus dilakukan secara agresif melalui edukasi masif, perluasan akses tes HIV, peningkatan kepatuhan terapi ARV, hingga pemanfaatan metode pencegahan modern seperti Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) bagi kelompok berisiko tinggi.

Menurutnya, HIV saat ini bukan lagi vonis kematian. Dengan pengobatan yang tepat dan disiplin, penderita dapat hidup sehat, produktif, serta memiliki harapan hidup yang hampir setara dengan masyarakat pada umumnya.

“Masalah terbesar bukan ketersediaan obat, melainkan masih banyak orang yang belum mengetahui status HIV mereka. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang menghentikan penularan dan menjaga kualitas hidup,” tegasnya,Selasa,(9/6/2026)

Apabila tidak dikendalikan sejak sekarang, HIV berpotensi menjadi bom waktu bagi Jawa Timur. Dampaknya tidak hanya menghantam sektor kesehatan, tetapi juga mengancam produktivitas tenaga kerja, ketahanan keluarga, hingga peluang Indonesia menikmati bonus demografi yang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, perang melawan HIV tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan. Keterlibatan keluarga, sekolah, komunitas, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci untuk memutus rantai penularan sebelum ancaman ini berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

  • Dipublikasi Pada 9 Juni 2026
  • Baru Saja di Update Pada Juni 9, 2026
  • Temukan Kami di Google News

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).


Follow WhatsApp Channel Infosurabaya.com
Follow