Soroti Polemik Roblox, Kreator Minilemon Ajak Bangun Ekosistem Digital Sehat untuk Anak, Bukan Sekadar Melarang

Infosurabaya.com,Surabaya – Polemik mengenai game daring Roblox yang dinilai mengandung konten tidak layak bagi anak terus menjadi perhatian publik. Di tengah perdebatan yang berkembang, pendiri sekaligus kreator karakter animasi edukasi Minilemon, Reno Halsamer, mengajak masyarakat melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya dengan pelarangan, tetapi harus dibarengi pembangunan ekosistem digital yang sehat melalui kolaborasi pemerintah, orang tua, platform digital, sekolah, dan para kreator konten.

 

Belakangan, Roblox menjadi sorotan setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meminta anak-anak tidak memainkan game tersebut. Sejumlah pihak menilai platform itu memuat berbagai konten yang berpotensi membahayakan anak, mulai dari unsur kekerasan, horor, pornografi, hingga interaksi dengan orang asing yang dapat membuka peluang terjadinya kejahatan siber.

 

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Surabaya, Syaiful Bachri. Ia menilai sejumlah permainan dalam Roblox dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak apabila dimainkan tanpa pengawasan orang dewasa.

 

Menanggapi polemik tersebut, Reno Halsamer menilai akar persoalan bukan semata-mata pada keberadaan sebuah platform, melainkan pada minimnya konten positif yang mampu bersaing di ruang digital.

 

Sebagai pendiri Mini Lemon Studio di bawah naungan D’Topeng Kingdom Group, Reno mengatakan algoritma media digital saat ini cenderung lebih mengangkat konten yang mengandung sensasi, horor, maupun kekerasan dibandingkan konten edukatif.

 

“Kalau kita lihat, konten yang subscribernya tinggi dan viewernya tinggi justru banyak yang mengandung unsur horor dan kekerasan. Nasihat-nasihat yang baik justru sering kali bukan menjadi favorit anak-anak. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” ujar Reno, Rabu (15/7/2026).

 

Serial animasi Minilemon sendiri merupakan karya asli Indonesia yang diproduksi di Jawa Timur. Animasi tersebut menghadirkan enam karakter buah lemon yang merepresentasikan enam suku besar Nusantara dengan mengusung konsep hiburan yang dipadukan dengan pendidikan karakter, nilai kebangsaan, serta penguatan budaya Indonesia.

 

Menurut Reno, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu menciptakan lebih banyak konten berkualitas sehingga anak-anak tidak hanya bergantung pada produk digital dari luar negeri.

 

“Masa melihat kondisi seperti ini kita menyerah? Tentu tidak. Indonesia memiliki banyak orang pintar. Yang dibutuhkan sekarang adalah kemauan untuk membangun ekosistem digital yang sehat bagi anak-anak,” katanya.

 

Lebih jauh, Reno mendorong pemerintah agar tidak hanya mengandalkan kebijakan pemblokiran terhadap platform tertentu. Ia menilai pengawasan ruang digital harus dilakukan secara menyeluruh hingga ke daerah melalui sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

 

Menurutnya, Kementerian Komunikasi dan Digital perlu memperkuat koordinasi dengan dinas komunikasi di seluruh Indonesia melalui dukungan pelatihan, anggaran, serta kewenangan yang memadai agar pengawasan terhadap konten digital dapat berlangsung lebih efektif.

 

“Harus ada sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Jangan hanya di pusat. Daerah juga perlu pelatihan, anggaran, dan kewenangan untuk ikut mengawasi serta menindak konten digital yang mengandung pornografi maupun kekerasan,” tegasnya.

 

Reno bahkan mengusulkan sistem pengawasan digital nasional yang memiliki struktur berlapis sebagaimana sistem kelembagaan kepolisian.

 

“Kalau kepolisian ada Mabes, Polda, Polres sampai Polsek. Pengawasan dunia digital juga seharusnya memiliki sistem yang berlapis. Karena ini bukan sekadar kejahatan fisik, tetapi kejahatan yang terjadi di ruang digital dan sangat memengaruhi pola pikir anak-anak,” jelasnya.

 

Sebagai seorang ayah, Reno mengaku memahami langsung tantangan yang dihadapi keluarga di era digital. Ia menceritakan pengalaman ketika anaknya pernah berinteraksi dengan orang asing melalui permainan daring. Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa kehadiran orang tua menjadi faktor utama dalam melindungi anak ketika menggunakan internet.

 

“Yang paling berbahaya bukan hanya gamenya, tetapi interaksi dengan orang asing. Mereka bisa masuk sebagai teman bermain atau tutor game, lalu perlahan memengaruhi cara berpikir anak. Orang tua harus benar-benar hadir mendampingi,” tuturnya.

 

Menurut Reno, paparan konten yang tidak sesuai usia dapat memengaruhi perilaku, pola pikir, hingga hubungan anak dengan keluarga. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital harus menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya dibebankan kepada pemerintah atau platform digital semata.

 

Ia juga mengajak semakin banyak kreator lokal menghadirkan karya yang edukatif, kreatif, dan dekat dengan budaya Indonesia agar anak-anak memiliki alternatif hiburan yang aman sekaligus mendidik.

 

“Bukan hanya melarang, tetapi kita juga harus menyediakan alternatif. Anak-anak membutuhkan tontonan, permainan, dan karakter yang mampu membangun imajinasi, kreativitas, serta kecintaan kepada keluarga, budaya, dan bangsanya,” pungkas Reno.(Dn)

  • Dipublikasi Pada 15 Juli 2026
  • Baru Saja di Update Pada Juli 15, 2026
  • Temukan Kami di Google News
Follow WhatsApp Channel Infosurabaya
Follow

Trust Verified On Google
Jadikan Infosurabaya sebagai sumber berita tepercaya Anda di Google.
Add as a preferred source on Google
Disclaimer
Konten Soroti Polemik Roblox, Kreator Minilemon Ajak Bangun Ekosistem Digital Sehat untuk Anak, Bukan Sekadar Melarang disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Powered By Infosurabaya