Infosurabaya.com – Perjalanan pulang pada Jumat malam sekitar pukul 22.10 WIB yang semula berjalan normal berubah menjadi pengalaman menegangkan bagi seorang perempuan yang bekerja di bidang Corporate Public Relations salah satu apartemen di Surabaya. Insiden tersebut terjadi di jalur dari kawasan Semolowaru menuju arah Jalan Ir. H. Soekarno (MERR).
Korban menuturkan, saat itu kendaraan yang ditumpanginya melaju di sisi kiri jalan dengan kondisi arus lalu lintas relatif ramai namun lancar. Namun secara tiba-tiba, sebuah mobil memotong jalur dari kanan ke kiri tanpa menyalakan lampu sein.“Refleks adik saya yang menyetir langsung membunyikan klakson sebagai bentuk peringatan. Bukan untuk memancing konflik, melainkan demi keselamatan bersama,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (19/4/2026).
Menurutnya, respons tersebut justru memicu reaksi tidak terduga dari pengendara kendaraan lain. Mobil tersebut kemudian mengejar kendaraan korban dan melakukan tindakan agresif dengan memukul kendaraan di tengah jalan.“Setelah kami menyalip ke kanan, mobil tersebut tidak terima dan mengejar kami. Bahkan sempat menghadang di tengah jalan dan melakukan pemukulan pada mobil kami. Situasi yang awalnya lancar berubah menjadi mencekam,” jelasnya.
Akibat kejadian itu, arus lalu lintas di sekitar lokasi sempat tersendat karena kendaraan pelaku berhenti melintang di badan jalan.
Korban mengaku telah berupaya menenangkan situasi dengan menjelaskan bahwa tindakan membunyikan klakson semata-mata sebagai peringatan keselamatan. Ia juga sempat menyampaikan bahwa sepanjang jalur MERR terdapat kamera pengawas (CCTV) yang dapat membantu mengklarifikasi situasi.“Kami sudah mencoba menjelaskan bahwa tidak ada niat apa pun. Bahkan saya bilang, kalau perlu bisa dilihat melalui CCTV di sepanjang jalan MERR. Tapi respons pengendara tersebut tetap di luar kontrol dan membuat kami ketakutan,” tuturnya.
Dalam kondisi panik, korban juga sempat mencoba menghubungi layanan darurat 112. Namun panggilan tersebut terputus, diduga karena gangguan sinyal atau faktor cuaca saat itu.“Jujur sampai sekarang tangan saya masih gemetar kalau ingat kejadian itu. Saya takut dan trauma. Padahal Surabaya selama ini menjadi tempat bekerja dan hidup yang nyaman bagi saya,” ungkapnya.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pengguna jalan agar lebih mengedepankan keselamatan dan pengendalian emosi saat berkendara.“Jalan raya itu ruang bersama. Sedikit kesalahpahaman jangan sampai berubah menjadi tindakan yang membahayakan. Ingat, selalu ada keluarga yang menunggu kita pulang di rumah,” pesannya.
Korban juga berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi, sehingga Surabaya tetap menjadi kota yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh masyarakat.
- Dipublikasi Pada 20 April 2026
- Baru Saja di Update Pada April 20, 2026
- Temukan Kami di Google News
